By: Andy Nurman (Assistant Coach Skolari) 

Photo Credit: @asaljepretpelarian

Ceritaku di Binloop Ultra 120 menjadi participant Relay team "Troopers" utusan dari Skolari.id. 

Diawali accident mobil ditabrak dari samping beberapa meter menuju venue race Binloopultra. Gw jadi pelari pertama dari team untuk kategori 60K.( 12 KM per orang ).Flag off yang dimulai jam 2 siang saat matahari masih gagah di langit. Race kali ini benar benar menguras tenaga. Menurut gw 12K kali ini berasa seperti FM karena gw memang nggak pernah lari di jam segitu. Lari di aspal yang sedang panas panasnya,alhasil di km 4, badan udah berasa lemes kayak kesedot sama matahari. Merinding di sekujur badan, tenggorokan berasa kering, ditambah shock HR manteng di 190 BPM alias Zone 5, drama lari beriring jalan pun dimulai. Namun tetep HR gw nggak turun turun. Cuma turun sedikit ke 180 bpm. Otak mulai berpikir yang aneh aneh, sanggup nggak nih sampe finish.

Alhasil dengan kekuatan komunitas yang diawali dari teriakan dari jauh uni koch Valast " Endi jangan jalan " dan support teman teman dari Skolari yang setia menunggu di ws kedua semangat pun mulai muncul kembali. Tks Guys, i'm nothing without You Guys. 

Shock liat jam, HR di jam nggak turun turun, akhirnya gw mengatur strategi dengan mencoba berlari sesantai mungkin dan se enjoy mungkin dengan tidak memaksa push sambil mengatur nagas perut dan running form walaupun badan udah melehoy. Setiap WS gw selalu meminta air di botol agar bisa dibawa sambil jalan. Untuk tambah tenaga di cuaca panas diantara WS, yang akhirnya berguna karena dari KM 9 sampai finish tidak ada WS. Di Fly Over terakhir dari 6 kali naik turun fly over akhirnya semangat muncul. Gw pakai seluruh tenaga yang ada karena sudah 1 km lagi menjelang finish. Akhirnya gw pun sampai di garis finish kurang lebih dengan catatan waktu 1.30 menit. 

Itu cerita gw di Binloop 2020. See You Guys. Next year individu kali yaaaa. 

 

By: #BarefootJogger 

Photo Credit: @panjiocr

Tahura 2020

Bukan race lintas alam pertama yang saya lakukan. Bedanya, di race2 sebelumnya, saya berlari di trek off road menggunakan sepatu Trail (New balance Minimus dan Salomon Speedcross 3) kali ini saya mau mencoba Vibram Fivefingers VTrail 2.0. 
Rutin, sekali seminggu saya sempatkan buat nge loop di JPG BSD 8K,12K,15K, kok ini sepatu enak banget ya. Mega Grip plus Fleksibilitas khas Vibram makin bikin saya pe de buat ikutan event pembuka Trail Run tahun ini.

Race day,

Nggak banyak berbeda dgn latihan, saya lebih banyak mengatur strategi, membiaskan kaki, telapak kaki di trek keras ( batu dan semen ) di KM 1 sambil mengatur nafas pas nanjak. Toh jarak masih panjang, 17K apalagi ini Trail Run. Hujan rintik mulai terjadi sejak KM2 hingga KM6 dan ini membuat trek yg mulai masuk ke jalur Off Road jadi licin.

Amazingly,

Hampir nggak pernah saya Slip di trek2 licin dan berbatu di Tahura. Saya malah sangat confidence, dan bisa atur nafas lebih teratur sampai kilometer akhir.

Zero Drop power,

Vibram Fivefingers plus keleluasaan jari jari di dalam sepatu ( feels like barefoot ) menurut saya jadi kekuatan sepatu ini buat berlari di trek all terrain. Untuk Trek licin Kekuatan kaki yg (hampir) langsung bersentuhan dengan terrain surface plus cengkraman mega grip di VFF VTrail, membuat kita makin leluasa untuk bergerak tanpa khawatir terpeleset.

Trik Fivefingers VTrail,

Untuk Hard terrain, berpikirlah sama ketika kita mengendarai sepeda gunung, dgn ban full offroad ( bukan all terrain seperti Maxxis Eddy Larsson) atur nafas, naikan cadence (ngicik) hingga masuk lagi ke trek off road, perlahan feel the ground naikan tempo, power walk bila medan makin steep. Bagaimana rasanya?  Reflex jari jari kaki hingga ke upper body benar benar Natural. Dan saya semakin nyaman buat maju.
Seriously !!!

Good Target strategy,

Untuk Trail Run, saya nggak mematok taget yg "ngoyo" seperti saat race di jalan raya. Anything can happen on Trail. Sebut saja Faktor cuaca, trek, running injury saat kaki dibebani tanjakan turunan, jalur berbatu dll, apalagi saya baru kali ini memakai Vibram Fivefingers untuk Trail Run. Finish Under 3 jam saya rasa cukup masuk akal.

Voila,

Alhamdulillah, saya bisa sampai finish dengan selamat dengan catatan waktu 2.26 menit. Kondisi kaki?
No Blister,
No broken nails
No pegel2

So, pilihan saya untuk semua aktifitas lelarian Road dan Trail akhirnya jadi full Fivefingers. Maybe Next mau coba juga Running Sandal macam Luna, earth runners, or Xero.
#barefoot #running #vibramfivefingers #trailrunning #runningissharing #skolari #sekolahlari

By: Rony Kuncoro 

Photo Credit: @trailruntahura

@trailruntahura 2020 jadi Trail race pertama, saya ikut 17K. Biasanya ya cuma ikut latihan, trail race sendiri, biasanya dibarengin pas ada tugas liputan ke dataran tinggi.

Hawa hawa gunung dan dataran tinggi emang selalu menggoda, pemandangan luas,dingin, kabut, hujan tipis tipis, aroma daun di dlm hutan dan bau tanah basah.

.

Banyak yg nanya kenapa 17K? Ga sekalian 21K?!.

Hahaha, jawaban saya selalu, capek ah, abis lari harus nyetir pulang dr bdg ke jkt.

Tapi bukan, sebennarnya bukan itu alasannya...

.

Alasannya banyak...!

Gunung, bukan sesuatu yg asing buat saya, eh tp sayapun bukan expert ttg pendakian gunung. Saya cuma sekedar penikmat, dan tuntutan kerja yg harus bebeerapa kali naik gunung untuk menuntaskan ekspedisi cincin api.

.

Karena sedikit tau ttg resiko pendakian, jadi untuk bermain main dgn trail run ini saya juga cukup hati hati, walaupun itu cuma sekedar naikin bukit hahahaaa.

.

Walaupun sudah mencicipi beberapa road race HM 21K. Tapi ya lebih baik tetap merunut dr jarak terendah.

.

Bareng @skolari.id saya coba konsultasi bareng koch @adriesoetopo dan @valast_ahmad_111 untuk melihat kira kira saya mampu di kelas yg mana

.

17k dan @trailruntahura saya rasa emang paling cocok untuk long course trail run.

Cocok untuk ngukur kemampuan, tenaga, dan pastinya nafas.

Ga mau ngoyo atau panas kuping dengerin kawan kawan berbisik... "Ayo, nanggung 17 doang...sikat 21" 

Ahahaha belom, belom saatnya, yg berikutnya aja

.

Gunung dan lari punya perpaduan yg sedap sedap getir. Perpaduan antara misteri alam yg entah bisa berubah kemana arah angin, cuaca, bahkan badai, dengan kedewasaan memahami kemampuan, dan kondisi badan sendiri.

.

Jadi berikutnya @sentulhilltrailrun 21k. Kemudian kira kira setelah itu @bdg100_official 25K atau @btsultra 30K kawan kawan?

By: Lucky Angga (Skolarist/Running Enthusiast)

"Maaf ya coach" kalimat itu yg terlontar pertama kali saat dijemput kuch kesayangan di kilometer terakhir full marathon pertama saya di Tahura Trail Run 2020.
Bukan tak beralasan kalimat itu terlontar, karena saat itu saya yakin saya telah melewati COT yg ditentukan, dan saya harus siap dgn kekecewaan terbesar sy tidak bisa mencapai target yg sy janjikan utk finish under COT.
Tepat 4 hari sebelum race day sy terkena demam tinggi krn radang di tenggorokan ditambah dg buang2 air semalam sebelum berangkat ke Bandung.
Pagi hari race sy memutuskan untuk berada di belakang garis start walaupun teman2 Skolari sangat mengkhawatirkan sy setelah tahu sy masih demam. Namun setelah mengikuti training plan TAHURA yg diadakan Skolari dan dibimbing langsung oleh Coach Valast & para assistant coaches sy yakin akan kemampuan fisik sy.
Jangan anggap remeh semua race yg akan dilakukan, semua ada resikonya. Race kali ini sy akui yg terberat yg pernah lalui sejauh ini. Selain jarak yg bukan kaleng2, trek & guyuran hujan membuat beberapa pelari memutuskan DNF di kilometer2 awal beberapa di antaranya akibat cedera.
Bagi sy sendiri.... adalah sebuah pertarungan mental & fisik, dimulai di KM 10 kaki sy kram setelah uphill panjang sejak start dan disusul downhill tajam di km 8 hingga 10
Sempat berfikir untuk DNF, tapi yg terngiang dlm benak sy  ucapan dari coach "trust your training" sehingga sy memutuskan untuk melanjutkan race tersebut.
Cuaca hujan memperburuk trek sehingga sulit dilalui, melalui jalan setapak di hutan seorang diri sy sempat putus asa dimana lumpur menghadang di tanjakan di saat kaki mencoba memanjat dua langkah namun kembali merosot lima langkah ke belakang. Ingin rasanya menjerit & menangis serta menyerah krn tenaga sy sdh terkuras banyak, namun sy teringat teman2 seperjuangan di Skolari yg begitu banyak memberikan dukungan sebelum sy race. Sy tidak mau mengecewakan mereka kemudian sy putusan untuk lanjut walaupun saat itu kaki yg satu mulai kram.
Setelah bergelut dg alam di km 20an, menemukan jalan aspal di km 30 seperti Oase bagi sy untuk push to my limit agar bisa finish di bawah COT kalau tidak sy bakal mengecewakan para Coaches & temen2 seperjuangan..... sy harus minta maaf pd semuanya pikir sy saat itu.
Setelah disambut Coach Adrie & kang Aade di KM 40 serta dijemput Coach Valast & Om Icak di KM terakhir adrenalin saya kembali naik semangat kembali mencapai garis finish menyelesaikan apa yg sudah saya mulai 10 jam lalu tadi pagi.
50 meter menuju finish ditemani coach Valast sekilas sy lihat timer di garis finish menunjukkan angka 9:45 berarti 15 menit menuju COT.... Allohu akbar... dada sy membuncah... diikuti dg teriakan sambutan dari teman-teman seperjuangan... emosi sy meluap seiring melangkah garis finish & pecah tangisan sy disambut oleh kepala sekolah Skolari serta para skolarist....kami pun saling merangkul mengukuhkan dukungan dan meluapkan kegembiraan. Terima kasih semua atas dukungan & cintanya sehingga sy bisa masuk garis finish dg selamat... Alhamdulillah
Terlepas dari itu dalam kesempatan ini izinkan saya tetap memohon maaf kepada semua skolarist karena sempat membuat mereka khawatir, dan khususnya mohon maaf kepada tim Coaches krn saya belum bisa memberikan catatan waktu yg terbaik, insya alloh sy akan berusaha lebih keras lagi di race2 berikutnya. "Trust your training and never give up" 

 

2017, ... aku di ajak Irawan Adisuko MS'74 ikut um ITB. (Wah... keren juga pikirku). Um ITB mmng di prakarsai oleh Jurusan Mesin ITB. Aku semangat coba berlari. Br 1 menit nafasku sdh ngos2an. Coba lagi... tetep ngos2an. Padahal aku kuat gowes 200K. Ok..  lari bukan utk ku. Titik.
2018... aku diajak lagi um ITB... terima kasih... lari bukan bidangku kataku...  namun ada temanku yg 23 tahun lbh muda...  (oo iya.... aku saat itu 64 thn). Ayo mas latihan sama aku... itu di gbk. Dia berlari pelan sekali dg kecepatan org jalan kaki. Ya aku jalan aja menemani dia. Jangan jalan mas.... ikut lari....  aku ikut deh lari... ya dg kecepatan spt org jalan kaki...  sambil ngobrol ternyata bisa sampai 5km?. Aku girang banget. Sejak itu aku rajin berlatih setiap hari. Dan ahirnya ikutlah aku um ITB 2018 bersama Tim AR. (Blm ada tim 74). Bertemu dg banyak teman baru AR lintas angkatan trmsk Dondong dan Cebong?. (Angktn 74 dlm tim AR cuma aku dan Toet).

Sgt susah mengajak teman2 seangkatan utk ikut berlari.... udahlah... ga usah lari... kita sudah tua... ga usah cari gara2 nanti lutut cidera.
Berbagai artikel/video ttg lari ga cocok utk orang2 berumur dikirimkan ke saya.
Untunglah ada Wuri dan Toet yg sdh lbh dahulu mengenal Skolari.
Dg mengajak teman2 ikut belajar lari bersama Skolari...  dlm um ITB 2019,  74 bisa menurunkan 2 tim atau 36 pelari utk berlari 10K yg sebagian besar mulai dari NOL, atau blm pernah lari. Dan kabar baiknya 36 pelari dpt menyelesaikan UM ITB  tanpa cidera.
Dan kabar lebih baik lagi, sekarang 74 punya komunitas lari 74lari ( maksudnya bisa Jalan dan Lari) yg terus bertambah anggotanya. Shg tahun depan berencana utk kirim 3 tim atau 54 pelari 74. ?

Banyak dari kita yg sdh 45 thn blm pernah bertemu lg, sekarang kembali bersama, dlm wadah berlari.
Terima kasih Skolari yg telah menyatukan kami.
Memang tepat dan indah moto Skolari....
Running is sharing, running is blessing.


Oleh: Gia Putri (Running Enthusiast) 2019

Photo Credit: Metro TV Heritage Run 


Minggu produktif, pasalnya aku join race run Metro TV Heritage Run 2019 yang digelar di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat. Ajang Olahraga ini merupakan salah satu rangkaian acara HUT Metro TV yang ke-19, bertema “Persembahan 19 Tahun Menebar Inspirasi”.
Event-nya seru, para pelari tidak hanya berlari, tetapi juga diajak menelusuri jejak-jejak masa lampau Old Batavia, seperti Taman Fatahillah, Kantor Pos, Museum Seni Rupa, Stasiun Kereta Api "Beso", Meseum Mandiri, Museum Bank Indonesia, Gudang Tua VOC, Menara Syahbandar, dan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Menariknya banyak peserta yang berpenampilan unik, kehadiran sejumlah tokoh nasional pun kian menyemarakan suasana, ada Menpora Zainudin Amali, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Walikota Bogor Bima Arya, hingga "papah onlen Indonesia" Sandiaga Uno.
Aku sendiri ikut kategori 5 K dan Alhamdulillah meraih waktu 00:32:22, waktu ini lebih baik dari kategori 5 K yang pernah kuikuti sebelumnya yang biasanya menyentuh angka 35 menit ke atas. Pada race run kali ini, aku menargetkan bisa menyentuh di angka 00:30:00, tapi yang lebih penting aku bisa finish happy, strong, and ketje. Thanks @skolari.id. harus lebih rajin latihan lagi .
#runner #satpamcantikgbk #running #skolari #lari #metrotvheritagerun2019

By: Valast Ahmad (Skolari Coach) 

Credit Photo: @geoparkrun

Minang Geopark Run menjadi salah satu event yang wajib saya ikuti. Selain karena trek dengan alam yang indah, juga sebagai kampung halaman. Hukumnya, Wajib saya ikuti. 

Dengan Pemandangan alam yang indah dan cuaca yang sejuk, race Minang Geopark sangat recomended, disamping tentu saja kuliner Minang yang tidak diragukan lagi. Dunia sudah mengakui, promosi dikit lah yaaa kampung halaman ambo. Tapi untuk mengikuti race ini teman-teman harus berbekal latihan yang cukup, selain latihan lari yang ada hills nya, juga sangat dibutuhkan strength training karena trek yang mendaki menurun gak habis-habis sampai finish. 

Yang paling menantang adalah menaiki tangga 1000 di kilometer 3, anak tangga yang banyak dan makin lama tanjakannya makin curam walaupun kita dihibur oleh pemandangan Ngarai Sianok yang indah, tetap tangga tersebut, tanpa latihan akan susah dilewati dengan baik.

Alhamdulillah Half Marathon di Mingan Geopark bisa diselesaikan dengan baik berkat latihan tentunya. 

#skolari #RunningisSharing #MinangGeoparkRun2019 #TrustYourTraining

 

By: Zainagara (Running Enthusiast) 

Photo Credit: Borobudur Marathon

Halo, saya Zainagara dan berlari di Borobudur Marathon kategori Full Marathon, 42.195 KM⁣ 

Perkenalkan Kawan Baru Lari saya Namanya Ibu FENI Umurnya 45 tahun dari Magelang yang berprofesi tenaga medis di salah satu rumah sakit sekitar Magelang dan Saya Sendiri Zain, Kami dipertemukan di KM 30 tanpa sengaja.⁣

"Running Is Sharing" ,

Ya, saya ingat sekali jargon @skolari.id.⁣ Inilah yang membuat saya mencapai waktu 5.55menit di garis finish.⁣

Saya bertemu Ibu Feni karena melihat seperti ibu sendiri, sehingga saya menyapa ibu dengan ucapan “???? ?? ???? ?????? ??? ?????? ????? ??????”, sontak ibu ini menjawab “????? ??? ??? ?????? ?????? ??????”.⁣

Dari KM 30 s/d garis finish bercerita dan berbagi pengalaman tentang berlari yang baik dan benar.⁣

Seru Rasanya bisa menggandeng tangan ibu Feni sampai garis finish bareng. ⁣
Banyak sekali pelari, masyarakat dan marshal yang meneriaki kami dengan ucapan ⁣
- Semangat, ⁣
- Pasti bisa,⁣
- Tinggal 5 Km lagi⁣
- Semangat Ibu Feni (Rekannya ibu Feni yang meneriakkan)⁣

Sampai akhirnya saya dan ibu Feni memasuki Area Taman Lumbini di kawasan Borobudur, sempat nangis karena bisa bawa ibu2 yang penuh semangat dan tidak menyerah.⁣

Terima kasih Ibu Feni Mau mendengarkan ucapan saya dari KM 30 s.d Finish.⁣

Sekian cerita kami dari Borobudur Marathon 2019 ⁣
dI kategori Marathon 42km

#runningissharing 

By: Imran Husein (Running Enthusiast)

Sebelum race day, saya berusaha memiliki mindset (sesuai saran kuch Valast: full marathon itu soal mindset). Okey... bomar adalah road race terberat, tapi sekaligus jg race yg paling keren & ditunggu2, jadi saya harus bisa menikmati race ini, so enjoy the race ..  terus terang, bbrp temen bertanya knp ambil virgin FM di Bomar, knp ga di race yg lain.. sy pilih race ini utk virgin krn sy lihat Bomar mmg lain dp race yg lainnya & sy punya good mood di race ini stlh ambil VHM di Bomar jg taun lalu.

Bagi saya, race khususnya Bomar ini adalah saatnya utk berlari dgn gembira (istilah kerennya berpesta.. hehe),  setelah berlatih berbulan2, pagi dan malam..  sy berusaha utk tdk khawatir dgn kondisi lintasan dgn tanjakan2 & turunan2 yg lumayan curam maupun suhu udara yg panas..

Dengan mengikuti Training Plan Skolari, walaupun saya tidak bisa mengikuti 100% (maaaap ya kuch Valast ????), tapi sy harus yakin kalau ini sudah latihan maksimal yg bisa saya ikuti.. sesuai salah satu mantra kuch: "trust your training"..

Udara panas Borobudur saat race, saya antisipasi dgn memakai kacamata cengdem (sbnrnya jarang pake cengdem.. hehe), yg ternyata sangat bermanfaat & mindset yg sudah siap menghadapi udara panas (karena mmg sehari2 udah biasa dgn udara panas di kota Jakarta..

Dan saat race, saya menikmati suasana race yg super kereeen ini:
View sepanjang lintasan yg menarik,
Cheering yg luar biasa dari warga setempat yg sangat ramah & antusias, Lintasan yg sangat steril & pengendara2 yg sangat sabar menunggu antrian krn macet..
dan tentunya antusias warga setempat yg sangat luar biasa menyambut event besar ini... faktor2 ini yg tdk bisa ditemui di race2 lainnya..

Strategi yg saya jalankan selama race, sesuai plan, sy berlari dgn pace sy sendiri pace 8-9.. pace saat latihan long run.. dgn target berlari setiap 10 KM selama 1,5 jam sampai COP di KM 35-38.. dan alhamdulillah berjalan dgn baik.. 

Setiap Water Station saya minum atau makan buah.. tapi tidak setiap lokasi cheering saya berhenti & berfoto, karena khawatir over nanti kena COP atau COT... hehehe..
Hampir di semua tanjakan & turunan saya power walk, sekali2 aja dibawa lari, sy main aman aja demi kaki.. hehe..

Tapi saya sempat merasakan kurang nyaman pada kaki bagian bawah setelah KM 30 & berhenti di salah satu medis station (di KM 36, kalo ga salah) utk mendapatkan bantuan streching.. (gak nunggu sampai kram) dan alhamdulillah setelah streching, kaki sudah nyaman kembali utk dibawa berlari..

Selepas KM 36, karena kaki sdh nyaman lg, saya coba naikkan ke pace 7 (sesuai plan saya jg). Alhamdulillah saya bisa berlari dgn nyaman dgn pace 7 di 5-6 KM terakhir ini dan bisa finish stroong & healthy...

Terima kasih khususnya buat kuch Valast & tentunya kuch Adrie & kuch Sem, yg sudah membimbing kami semua khususnya yg mengikuti Training Plan Skolari.. Beberapa nasihat kuch yg saya ingat sepanjang race: trust your training, marathon yg sesungguhnya itu mulai KM 30, full marathon itu yg utama itu mindset & berlarilah dgn pace kita sendiri..

So, menurut saya Borobudur Marathon ini adalah road race yang terbaik utk saat ini.
Lintasan lari yg kereeen dgn cheering, view, informasi yg jelas, water station & marshall sangat baik & well organized..
Satu2nya kekurangan mngkn karena ada bbrp WS yg kehabisan cup dan ada 1 WS yg kehabisan air..
Tidak berlebihan kalo dikatakan Bomar bisa jadi salah satu the best road race in the world.. (walaupun saya belum pernah ikut race di LN... hehe)  dan yg terpenting berlatihlah dgn konsisten seblm mengikuti race khususnya FM..

Congratzzz all finisher Bomar...

By: Valast Ahmad (Skolari Coach) 

Borobudur Marathon 2019 adalah last marathon di 2019
Persiapan sudah cukup, Semoga nanti lancar berdoa dlm hati, karena tahun lalu sdh pernah dan sudah tau gimana tanjakan dan turunan yang akan selalu menemani sampai km 40.
Target nya bukan PB, karena cukup sulit untuk meraih Personal Best di ajang ini.. Target nya finish dengan waktu sub 5.. Insya Allah
Minggu 17 Nov tepat pukul 5:00 Full marathon start! Yes perjuangan dimulai ??
Sepanjang trek banyak cheering dari warga sekitar, anak2 sekolah dan bpk2 serta ibu2 di setiap desa yang kami lewati.. Malah diberi suguhan teh manis hangat oleh penduduk.. hmmmm enak banget rasanya ??
Semakin lama tanjakan semakin berat, kalau yang terlalu tinggi saya jalan cepat aja atau power walking supaya power gak kehabisan, karena perjalanan masih panjang. Sekitar Km 27 pas tanjakan halus yang lumayan panjang di salip pacer 5.. ahahhahahaa kalau sdh dilewatin pacer 5 maka mimpi sub 5 nya akan pudar.. Ok kita liat nanti apakah saya bisa kembali mendahului mereka. Trust your tarining! Selalu saya tanamkan. Yesss km 29 bisa saya susul ??.. Perjalanan panjang dilanjutkan lagi dgn memaintain HR dan pace.. Tanjakan dan turunan masih menanti di depan. Kemudian sampai lah di COP terakhir Km 35, tanjakan setan para pelari menyebut nya.. Karena memang susah bgt utk bisa tetap lari disini.. hampir semua pesrta power walking disini termasuk saya.. tanjakan tinggi dan panjang. Daaaan karena power walking.. Duaaar disusul pocer 5 lagi.. ahahhahahaa.. Trust your training! Setelah tanjakan setan tsb lewat saya mulai menata pace kembali.. pelan dulu kemudian makin lama makin naik sampai akhirnya keliatan lagi deh balon2 gold dengan angka 5:00 tersebut. Alhamdulillah bisa kesusul, dan sampai finish balin2 gold dengan tulisan 5:00 tersebut sudah tidak menyusul saya lagi. Alhamdulilah finish bahagia tanpa cidera.. dan target sebagai bonus dan penyemangat tercapai.

By: Wahyu Hari Rahmanto (Running Enthusiast)
 
Sebelum gabung skolari di awal Jan 2019, ga pernah ngebayangin ikut race FM bahkan sampai 3 kali, race terjauh sebelumnya cuman 15k di Danamon Run 2017 itupun 1km menjelang finish kaki terasa berat dan ngelock alias kram. Diawal tahun 2019 saya bertekad untuk ikut FM sekali saja seumur hidup ketika umur 40 tahun. Keinginan itupun seakan bersambut dengan ajakan teman2 sepelarian Danamon Runner untuk gabung Skolari di awal Jan 2019. Ajakan gabung ke Skolari menambah PD dan motivasi utk bisa menyelesaikan misi yg sudah saya buat. Latihan rutin kamis malam dan sabtu pagi saya ikuti dan bahkan race2 pendek 5k dan 10k juga sering kali saya ikuti.
Ketika ada pendaftaran race Mayor FM di Indonesia saya langsung daftar spt PSBM, Jakmar dan Bomar. Berharap di salah satu race FM tsb saya bisa Finish under COT bukan DNF. Ketika ada Training Plan untuk PSBM saya langsung ikut dgn bimbingan para coach handal Skolari khususnya coach Valast. Dan akhirnya di tgl 28 Jul 2018 Virgin FM pun saya peroleh dgn catatan waktu 05:15:52, misipun akhirnya terpenuhi walaupun belum pernah sama sekali ikutan race HM.
Setelah itu sempat utk tidak ingin ikut race FM Jakmar dan Bomar. Namun ketika menjelang race Jakmar keinginan muncul kembali utk berlari sejauh 42k lagi dan akhirnya saya berlatih sendiri tapi tetap berdasarkan TP PSBM sebelumnya walaupun memang sering waktu latihan berbenturan dengan pekerjaan yg sedang menumpuk. Krn latihan yg kurang maksimal maka hasil Jakmar tgl 27 Oct 2019 finish di 05:49:19. Selang 3 minggu kemudian FM Bomar menunggu, di tengah2nya ada race Danamon Run tgl 10 Nov 2019 dimana boleh menentukan finish sesuai pilihan sendiri maka saya yg blm pernah ikutan HM berniat menjadikan race tsb menjadi virgin HM sekaligus latihan long run terakhir sebelum tapering Bomar. Tgl 17 Nov 2019 akhirnya FM terakhir yg saya daftar di tahun ini, dgn persiapan latihan yg seadanya tapi dasar nekad dan tetap latihan reguler di skolari memang sangat berpengaruh di race yg baru saja selesai 17 Nov 2019, FM ke 3 tahun ini 05:53:05.
Ini ceritaku mana ceritamu. Latihan tdk akan mengkhianati hasil.. Trust your training @skolari.id

By: Theresia Lirani (Running Enthusiast)

“Finishmu Pilihanmu”yang menjadi konsep di Race Danamon Run 2019 merupakan hal yang baru saya temukan sejauh pengalaman saya mengikuti ajang lari. Dimana pelari diberikan kebebasan untuk menentukan finishnya sendiri ketika lomba sedang berlangsung, apakah mau finish di kilometer 5, 10, atau seterusnya. Tidak seperti ajang-ajang lainnya yang mengharuskan pelari memilih kategori finish saat pendaftaran. 

Keunikan lain dari ajang Race Danamon Run ini adalah, adanya kategori 15K! Tidak seperti ajang lainnya yang dari ketegori 10K langsung ke 21K (Half Marathon).

Selama ini, pertimbangan usia merupakan hal paling utama, mengapa saya tidak pernah berani melampaui batas 10K. Karena untuk melamapuinya, berarti saya harus mengikuti sampai 21Km, yang rasanya sungguh tidak mungkin. Makanya, keberadaan finish 15K ini jelas merupakan godaan untuk saya ‘naik kelas’. 
Ketimbang memikirkan yang berat-berat, saya mencoba untuk tertib dulu di 5 point berikut: Membaca race guide, Kuasai rute, Istirahat cukup, makan bergizi, dan persiapkan perlengkapan seperti sepatu, BlB, dan lain-lainnya.

Begitu tanda aba-aba lari dimulai, saya mencoba fokus pada apa yang disampaikan oleh mentor saya Mas Eldi, bahwa untuk bisa Finish Strong and Happy, sebaiknya kita tidak berfokus pada total jarak yang akan kita tempuh, melainkan membaginya menjadi 3 tahapan ( supaya tidak terasa berat) . Karena di hati kecil saya sudah ada niatan untuk mencoba 15K, makanya saya coba untuk membagi lari saya menjadi 5K pertama, kedua, dan ketiga.

Meski cuaca saat itu cukup mendukung, tidak panas, tidak banyak kendaraan lewat dan banyak angin..saya sepertinya  mendapat banyak godaan untuk bisa menyelesaikan misi saya kali ini. Mulai dari banyak teman yang mengambil rute 5K, juga ada sahabat yang awalnya sudah komit untuk mencoba 15K bersama saya tetapi terpaksa belok menjadi 10K karena mengalami cedera kaki. Keraguan semakin besar, apakah terus, atau belok saja? Tapi saya memutuskan untuk lanjut saja, dengan tetap membawa langkah yang rasanya mulai berat.

Untungnya, ketersediaan water station yang cukup banyak, plus pisang dan kurma yg saya dapatkan di stasiun ke-4 bisa membuat energi saya kembali bertambah.
Ketika rasa ingin menyerah kian dominan, tiba-tiba dari belakang ada teman yang melalui saya sambil berteriak, “Ayo Mbaa... Semangat... Tinggal dikit lagi!” saya seperti terbangun dan sadar bahwa saya sudah di KM 12, apalagi tidak jauh kemudian saya melihat board bertuliskan: PASTI BISA.

Saya seperti mendapatkan energi yang entah dari mana datangnya. Semakin mendekati garis finish, semakin membuat saya ingin memacu lebih cepat lagi.

Sesaat menjelang garis finish, saya mendengar panitia menyerukan, “Ayooo.. ayooo mba...Masih ada 20 medali khusus ”
Wuahh...rasanya seperti energy booster yang mendorong saya sampai ke garis finish dengan catatan record millage terbaru: Finish 15K! 

“YESS, I BREAK THE LIMIT"

By; Andy Nurman (Asscoach Skolari) IG: andy_nurman84

Ceritaku untuk Danamon Run 2019 Race yang berlokasi di seputaran ICE BSD, lokasi yang sama seperti tahun sebelumnya. Lokasi nyaman, udara bersih, dan dingin, karena jalur race bukan jalur umum kendaraan, cocok buat pelari pelari yang ingin mengejar Personal Best (PB)

Ketersediaan Marshal yang cukup disetiap jarak, dan kondisi water station (ws) yang melimpah. Dan yang saya suka kali ini, ws menggunakan air "Hydro Coco" untuk meningkatkan mood booster saya. Mungkin karena bosen juga ya sama Pocari. 

Saya memilih untuk finisih 21KM, namun hasil tidak maksimal, 3KM terakhir saya banyak berjalan dan berlari pelan-pelan karena sudah ada sinyal kaki akan kraam. Catatan waktu menurut garmin saya 2.09.45. Tetapi kilometer di gps watch saya belum genap 21K, namun baru 20.48, karena telat mengaktifkan garmin saya. Tetapi saya tidak menyesal karena apa yang saya lakukan sudah maksimal, dan yang terpenting banyak pelajaran yang saya ambil. 

2 Pelajaran yang saya petik saat race kali ini adalah:

  • Jangan meremehkan Taper atau istirahat sebelum race. Sehari sebelum race saya pakai untuk Trail Run 13km ke bukit Pancawati, dan mampir ke Jungle Land, demi keluarga biar senang, hahahaha. ini yang menyebabkan kaki terasa berat. 
  • Membaca Race Guide, Saya berpikir race diadakan pukul 5.30, ternyata start pukul 5.15 wak wawww. Alhasil datang ke tempat race pukul 5.40, start line sudah tertutup karena sudah ada finisher 5KM. 

Special thanks buat Bapak Presiden Direktur Danamon, Yasushi Itagaki yang sudah menyempatkan diri buat foto bareng saya. Sukses acaranya Pak. See You next year Danamon run 2020. 

By: Dilla (Running Enthusiast)

Hi hi semuaaaa, maaf lupa bgt belum bales bales group. Pertama-tama terima kasih bgt coach Valast Ahmad yg bener bener bimbing. Terus terima kasih ke temen-temen semua, udah menyemangati anak bawang kaya saya.

Race kemarin,(Jakarta Marathon) saya sebenernya kurang tidur (baru tidur jam 11. Ampun kutz), terus lagi halangan hari kedua pula, lg deres & biasanya saya sakit perut tuh.
Pagi-pagi bangun saya ngerasa agak mual dan mulai takut & ragu. Sampe disana, temen-temen disini yg 10k udh siap siap mau race, jd pemanasan sendiri. Target saya cuman, bisa lari terus gapake jalan selama race (mau di pace berapapun). Alhamdulilah, selesai sampai finish dengan lari terus gapake jalan. Smp di km 4 udh deh sy geber krn masih kuat. Bener-bener, rasanya pas finish terharu (lebay bgt, pdhl cuman 5k hahaha), krn sesungguhnya dari kecil tuh saya benci lari. saya selalu ga kuat sama rasa tergopoh-gopoh setiap lari dari dulu, tapi ternyata dengan latihan dan teknik yg benar saya bisa melewatinya tanpa sakit dan pegal pegal, nafas masih teratur. Semoga ke depannya, saya bisa makin tekun latihan dan bisa naik terus race nya dr 5k ke 10k, target saat ini. Sekali lagi, terima kasih support nya teman teman semua, yg awalnya pada ga kenal, tapi selalu semangatin saya tiap lari. Semangat semua, Skolari! Running is sharing!

By: Dhimas Prayoga (Asscoach Skolari)

BTS Ultra tahun ini ditemani oleh musim hujan yang turun sejak semalam sebelum kategori 30K dimulai. Alhasil jadwal acara yang seharusnya mulai pukul 6 pagi diundur menjadi pukul 7 pagi. Hilang sudah "mood" saya karena hujan dan jadwal yang tertunda, dalam hati saya, kalau nanti acara diundur lagi saya akan balik ke kamar dan tidur lagi.

Ternyata acara dimulai pukul 7 meskipun hujan. Rute diawali di depan Lava View Lodge dengan kombinasi uphill dan downhill yang pendek hingga pada KM 3.5 kita menghadapi downhill menuju ke padang pasir luas yang pada akhirnya tiba awal tanjakan B29 di KM 5.5. Ditanjakan ini memakan waktu lama karena selain tanjakannya curam sejauh 1.5 KM, banyaknya peserta membuat antrian di rute B29 jadi lama. 

Di tengah-tengah perjalanan menuju puncak B29 ada seorang Ruth Theresia yang terus menyemangati dengan menggunakan loncengnya, tiba di puncak B29 disambut Ruth dengan loncengnya. Ini WS (Water Station 1) saya minum 2-3 teguk teh panas yang disediakan. 

Dari puncak B29, (KM7) saya disuguhi kombinasi uphill dan downhill sepanjang jalan dengan pemandangan kabut hingga padang pasir di bawah tidak tampak. Akhirnya keberuntungan datang, beberapa KM sebelum tiba di jalan aspal Jemplang (KM 16.5) hujan berhenti dan langit cerah. Pemandangan Padang Savana yang tadinya tidak terlihat, tertutup olehd kabut, akhirnya menjadi sangat jelas. Dikarenakan hujan sebelumnya, jalur dari puncak B29 menuju jalan aspal Jemplang ini tanahnya sangat lembek dan licin. Beberapa pelari termasuk saya, terpeleset satu kali. Pada saat turun menuju jalan aspal Jemplang, kembali Ruth melewati saya dengan loncengnya. Tiba di jalanan aspal Jemplang, kembali kombinasi uphill dan downill kecil sejauh 1KM hingga akhirnya tiba di WS2 Jemplang (KM17.5) Di WS ini disuguhi es krim, Coca Cola dan minuman lainnya. Saya mengambil 3-5 teguk cola dan mengisi ulang air saya. 

Selanjutnya, dari WS Jemplang rute downhill sejauh 500 meter menuju padang Savana luas terbuka. Saya terpana, banyak mengambil foto dan video, bahkan dimintai pelari pelari lain untuk mengambilkan foto untuk mereka. Dari sini rute cenderung datar dengan pemandangan nan indah, membuat ingin berhenti untuk menikmati alam ini. Rute datar di padang Savana ini kurang lebih sejauh 4KM hingga akhirnya melewati tempat yang dinamakan bukit Telletubies Bromo. Kembali di padang Savana ini, Ruth dengan loncengnya berlari dari belakang melewati saya. Mumpung pemandangannya cantik, saya minta untuk wefie lagi. 

Dari bukit Teletubies di KM21.5 rute padang savana mulai berubah menjadi padang pasir. Hingga tiba di bawah kawah gunung Bromo di KM 26. Saya sudah tahu kalau tidak bisa finish undar Cut off Time dan memilih untuk tidak memaksa badan lagi. Akhirnya lebih banyak foto foto, dan melihat area finish dari kejauhan di bawah kawah gunung Bromo.

1KM sebelum finisih masih ada tanjakan sejauh 600 meter, saya bisa mendengar MC berhitung mundur cut off time dan akhirnya tiba di finish line 13 menit lebih dari waktu COT. 

Sedih? nggak banget, karena yang awalnya cuaca hujan, akhirnya jadi cerah, dan dapat pemandangan yang luar biasa.Sepanjang dari Jemplang hingga finish, saya hanya power walk saja, sambil menikmati pemandangan indah. 

Tahun depan kita ulangi lagi, tapi tanpa foto foto lagi ya, supaya bisa selesai under cut off time, Terimakasih untuk coach Adrie Soetopo, Mas Bro Budiman Hartanu, yang sudah menyambut di finish line. Eh taunya bunkot Sigrit Rahayu juga sudah ada di samping finish line.(bukan karena udah finish, tapi DNF dan lagi makan bakso ) 

Terimakasih buat Ruth Theresia yang udah mau diajak wefie 2 kali.

By: Adrie Soetopo (Skolari Coach) 
 
BTS Ultra adalah race terakhir yang saya ikuti di 2019, sebelumnya di BTS Ultra 2018 mencicipi jarak 30K.Tahun ini race trail running yang sudah saya ikuti ada 4, jadi rasanya total 5 race setahun dengan BTS Ultra sudah cukup.
 
Berbekal pengalaman di 2018,dan berbagai input tentang medan dan trek di atas 30K di BTS, saya sudah membuat persiapan yang dimulai dari race2 sebelumnya. Terakhir race yang saya ikuti adalah BandungUltra 60K di awal September. Di sana saya membuat scenario selogis mungkin untuk bisa finish cukup sebelum COT 18 jam, sama dengan COT di BTS Ultra 70K.
 
Setelah Bandung Ultra, sisa sekitar 7 minggu saya pakai berlatih lebih banyak pada strength & endurance di low heart rate sambil mengevaluasi terus progress cidera lama di lutut saya yang belum 100% sembuh. Diet (pola makan) pun saya beri perhatian lebih sambil menambah asupan2 supplement. 
 
Satu hal yang saya akui susah, adalah mengatur jumlah jam tidur agar bisa lebih dari 6 jam minimal sehari.
 
Jumat 1 Nov sekitar pk. 11:00 kami tiba di Hotel Lava View, Bromo utk pengurusan RPC. Para SkolaristDhimas Prayoga, Budiman Hartanu, dan Sigrit Rahayu akan mengambil 30K, saya hanya sendiri nanti di 70K. 
 
Berada pada elevasi sekitar 2200 mdpl, hotel ini adalah venue start dan finish BTS sejak bertahun- tahun sebelumnya. Kami disambut mendung, udara dingin, kabut tebal disertai gerimis sesekali, dan internasional atmosfer karena banyaknya peserta dari luar negeri. Sebelumnya kami sudah cek ramalan cuaca, dan memang benar dari Kamis 31 Oktober hingga Minggu 3 November diramalkan cuaca akan
tidak bersahabat.
 
Selain soal cuaca, dari pagi kami sudah mendengar adanya perubahan rute untuk jarak 70K, 102K, dan 170K,dan pada race briefing pk. 14:00 perubahan rute ini diumumkan resmi, kurang dari 12 jam sebelum start….luar biasa!! 
 
Beberapa cek point ikon BTS seperti danau Ranu Kumbolo,padang savanna Ayak-Ayak, dan kawah Bromo tidak dapat dilalui, sebagai gantinya peserta harus mendaki sekitar 2 Km ‘tanjakan setan’ B29 hingga 3 kali!! 
 
Berbagai tanggapan, pertanyaan dan reaksi peserta menyertai race briefing yang hot kali ini.Perubahan ini disebabkan oleh larangan dari Taman Nasional BTS karena musim kering dan kebakaran hutanyang menyebabkan tanah mudah longsor.
 
Banyak yang menyesalkan karena perubahan rute terlihat tidak disiapkan secara matang.  Mendaki B29 berkali-kali bukan suatu hal yang mengasyikan. Kadung basah sudah hadir di lokasi race akhirnya semua menerima keputusan panitia ini. Saya pribadi sebenarnya kecewa karena lokasi-lokasi yang dibatalkan itu ‘Semeru banget’ saking indahnya dan gak semua orang bisa ke sana.
 
Setelah makan malam pk 19:00 dan semua persiapan beres saya tidur pk 21:00. 190 peserta 102K dan 170K start tepat pk 00:00 dengan suhu 8 derajat Celcius, kabut dan gerimis tetap konsisten menemani;
 
Sabtu 2 November pk 01:00 tepat bendara start dikibarkan untuk 285 peserta 70K…jumlah peserta start yang menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
 
Selepas start cuaca terasa semakin buruk...suhu 4°C berkabut tebal dan gerimis gak kunjung berhenti menemani kami. Jarak pandang jadi masalah besar karena memakai head lamp untuk membantu penglihatan tidak banyak menolong. Cahayanya menyebar terkena pantulan kabut sehingga susah melihat kontur permukaan tanah...hanya warna coklat di jalan setapak yang terlihat, tidak kelihatan apakah ada lubang, miring atau rata. Kaki kiri saya saat berlari di turunan sempat salah injak tanah karena kontur tidak kelihatan, kejeblos tidak jatuh tapi lutut kiri terasa ketarik, dari situ mulai terasa tidak enak. Ankle juga mengalami hal sama, hampir terceklik beberapa kali tapi untungnya tidak terjadi. Dari situ akhirnya saya memutuskan untuk lebih banyak power walk dan easy jogging. 
 
Pertimbangan heart rate juga membuat saya menahan diri. HR saya sempat mencapai 167 bpm dan susah sekali untuk kembali ke area 130an bpm. Saya sadar ini karena aklitimasi yang terlalu singkat, ketinggian area, kurang tidur, dan suasana race yang meningkatkan adrenaline. Saya harus menahan diri untuk survive hingga 18 jam.
 
Sekitar Km3 sebelum turun ke Pasir Berbisik menuju B29 terdengar para peserta yang di depan berdebat soal rute yang menurut mereka tidak seperti di GPX, alias nyasar!! Dan ternyata memang benar, banyak peserta di depan yang nyasar cukup jauh hingga 2-5 Km, bahkan ada peserta 102K yang ikut nyasar bersama kami. Ini disebabkan karena jarak pandang yang buruk tadi sehingga mereka yang di depan tidak melihat marka arah turun menuju Pasir Berbisik tapi berbelok ke kanan terus menyusur punggungan.
 
Dari Pasir Berbisik menuju kaki tanjakan B29 semua peserta menambah pace karena tidak ingin ngantri saat mendaki tanjakan maut ini. Saya menahan diri dengan pace saya berdasar HR yang mulai bisa dikendalikan walaupun belum bisa di level 130 bpm. Dealing dengan tanjakan maut seperti B29 ini bukan soal siapa di depan duluan, tapi seberapa konsisten untuk terus bergerak maju di kemiringan yang extrem. 
 
Kenyataannya memang terjadi karena banyak dari peserta di depan akhirnya tersusul karena kehabisan tenaga saat mereka harus dealing dengan tantangan utama tanjakan, sudut kemiringan dan elevasi. Hal ini yang membuat waktu jadi molor karena menimbulkan ‘kemacetan’. Hujan gerimis dan kabut menemani kami mengarungi 2 Km kemiringan tanjakan B29…perlahan dan pasti. Sesekali saya menengok ke bawah…sinar headlamp peserta membentuk jalur zig zag yang memanjang jauh ke bawah, bahkan ada yang terlihat masih di area Pasir Berbisik. Demikian juga peserta
yang di atas saya zig zag berbaris mengarah ke puncak B29. Dari sinar lampu zig zag ini saya menyimpulkan berada in the middle of the pack. Selama merayap ini saya mencoba disiplin dengan minum dan makan Magicbite sesuai program di jam Garmin saya, tiap 20’ minum, tiap 30’ makan 1 Magicbite!
 
Mencapai WS di puncak B29 dalam 2 jam 38 menit, total 8.3Km dari start diiringi hujan yang makin deras dan dingin menusuk. ‘Masih masuk dalam range waktu’ kataku dalam hati. Tidak ada yang istimewa di WS ini, hanya botol Aqua 600ml, no hot tea or coffee or snack refreshment. Setelah mengisi air dan makan beberapa Magicbite saya melanjutkan lari menuju WS berikut sekitar 10 Km dari puncak B29, desa Ranu Pane. Perkiraan saya jarak ini akan saya tempuh dalam max 2 jam karena kontur menuju ke Ranu Pane lebih banyak turunan. Jadi harusnya maximal sekitar pk 06:00 pagi saya masuk WS Ranu Pane.
 
Sepanjang hampir 11 Km menuju Ranu Pane 80% waktu saya dihabiskan dengan solo run (tidak ketemu peserta lain) dalam hujan dan kabut tebal. Jarak pandang yang terbatas benar-benar menyulitkan. Karena sendirian otak harus berpikir gimana cara melangkah di kontur tanah yang tidak jelas, kalau masih ada orang di depan bisa nyontek langkah mereka, beda kalau sendirian. Beberapa kali saya terperosok tapi untungnya tidak ada yang fatal walaupun efeknya buat lutut saya terutama yang kiri mulai terasa semakin tidak nyaman. Ditemani suara nafas, kabut, hujan, udara dingin menusuk saya jalan terus…rasa kantuk menyerang dilawan dengan bersenandung, bicara sendiri atau berdoa. 
 
Buat saya satu moment penting pada ultra trail adalah ME TIME seperti ini. Melihat kembali semua ke belakang apa yang telah dilalui dalam hidup selalu membuat saya tak hentinya bersyukur, apalagi mendengar azan subuh di kejauhan & melihat semburat lembayung pagi sang fajar…ucapku dalam doasingkat ’Terima kasih Tuhan aku masih Kau beri kesehatan di usia segini dan menikmati semua ini.Temani aku terus untuk tahun2 berikut yang akan Kau berikan’.
 
Perjalanan sampai menuju Ranu Pane akhirnya mundur 1 jam karena lutut saya semakin tidak nyaman terutama di turunan. Strategi pasti di trail running race adalah: waktu akan tersita saat menghadapi tanjakan, bayar lunas di jalan datar dan turunan. Setelah mencoba beberapa Km berlari di turunan dan kondisi lutut semakin tidak nyaman saya akhirnya tidak berani untuk push. Power walk solusinya walau kadang harus saya perlambat juga. Hampir pk. 07:00 saya masuk WS Ranu Pane, total sekitar 19 Km sudah saya tempuh dalam 6 jam…’Ini lambat’ kata saya dalam hati. Tidak ada yang istimewa di WS ini…Aqua gallon, minuman isotonic, pisang rebus yang sudah dingin, no hot tea atau hot coffee apalagi physiotherapist utk cek lutut saya. Hujan sudah berhenti sejak sekitar jam 06:00 tetapi mendung tetap menggelayut disertai kabut tipis, tidak ada sinar mentari.
 
WS berikut desa Ngadas, sekitar 10 Km dari Ranu Pane. Kali ini elevasi lebih banyak tanjakan daripada turunan. Segera refill dan saya lanjut ke Ngadas…1 Km setelah WS jalan mulai menanjak. Batin saya berperang antara akan tetap terus atau stop, alias memutuskan DNF (Do Not Finish) di Ngadas nanti. Saya coba lari kecil di tanjakan, lutut terasa tidak nyaman…OK akhirnya saya putuskan untuk power walk; trekking pole banyak membantu saya. ‘Keep positive bro…just keep moving’ kataku dalam hati. Jalan menuju Ngadas melewati kebon-kebon penduduk dan hutan di perbukitan yang banyak hangus karena kebakaran…bau sengit debu dan arang masih tercium. Ada 1 sektor yang disebut Turunan Pipa dimana turunan dan tanjakannya extrem. Melalui sektor ini saya merasakan sakit yang luar biasa di lutut kiri saya karena harus melawan gravitasi dan menopang 65kg berat tubuh ini, seorang peserta dari Malaysia memberikan pil pain killer supaya bisa meneruskan lewat sector ini. Hampir 1 jam saya dealing dengan tanjakan dan turunan yang tidak sampai 1 Km ini.
 
Akhirnya setelah melewati sektor Turunan Pipa, sekitar 25 Km telah lewat, total 8 jam lebih sejak start. Saya hitung waktu dan elevasi medan yg belum saya lewati…gak mungkin kekejar 70K dalam 18 jam. Setidaknya 9 jam harus 40K supaya lunas under COT. Lutut kiri makin gak enak dipakai, I must save my future days…race2 berikut di depan, latihan bersama Skolari, program2 sharing dan latihan dengan Skolari nanti lebih penting daripada sekedar finish di race ini! Saya harus hadir di sana! Saya putuskan
DNF!!
 
Selama ikut trail running race saya belum pernah DNF, this is my 1st time ever. Kalo lwt COT sih sdh pernah...over COT pernah tapi tetap selesai racenya. Jadi memutuskan utk DNF berat banget rasanya, mind/logic vs emotion tapi memang logic di atas segalanya kali ini. Cuaca, kondisi fisik, medan, elevasi yg hrs ditempuh, timing vs COT...saya terlalu egois jika memutuskan emosi saya yang menang.
 
BTS Ultra 2019 saya sudah memenangkan bukan sebuah lomba, tapi sebuah pertempuran dengan
kepala tegak…terima kasih Tuhan.
 
Trail running memang perlu dealing banyak hal selain kondisi fisik, mental, teknikal, dan terutamacuaca. Bromo tahun-tahun lalu di waktu dan event yang sama didukung cuaca bagus, tahun ini berubah180°. Race puluhan Km, alam kasih kondisi yang extreme yang pastinya benar2 drains energy dan mental.Bagi saya mereka yang sudah berdiri di garis start dan memulai lomba mereka berapapun jaraknya,apapun hasilnya sudah melewati limit mereka. Even bad weather couldn’t kill their encouragement, Isaw many brave souls with smiles, laugh, cheering, and support each other.
I saw it too at all Skolarist who took 30K on Sunday, 3 November…proud of you Dhimas, Sigrit, Budiman. Kalian luar biasa!! Bangga bisa bersama kalian kali ini…deg2an nungguin di garis finish, elu semua pasti tahu betapa leganya gue saat kita berfoto berempat di garis finish dan kirim foto tsb di grup Skolari utk kasih lihat we are in one piece and have won this battle.

Sampai ketemu di latihan2 dan race berikut!! Stay blessed & healthy…Skolari!!

Shopping Cart

x
 x 

Cart empty