By: Gun Gun Heryanto (Running Enthusiast) 

 

Kamis malam ( 12/09/2019 ) saya mencicipi kebersamaan dengan berolahraga di GBK, tentu dengan Skolari.id. Banyak teman bertanya, kenapa saya memilih berlari dengan komunitas? Ada 3 alasan. Pertama di komunitas bisa saling berbagi soal cara hidup sehat, bukan semata soal berlari. Kedua di Skolari.id kita bisa berlari dengan ilmu, tidak hanya soal running form tetapi juga soal jantung, otot dll. Tentu dengan Coach berpengalaman. Ketiga, hal yang lebih fundamental lagi yakni semangat kekitaan. Kebersamaan yang kerap meletupkan kebahagiaan. Semangat komunitarianisme. 

 

Saya jadi teringat tulisan Amitai Etzoni di bukunya "The Spirit of Community: Reinvention of American Society ( 1993 ), bahwa prinsip komunitarian ini berupa kesepakatan manusia untuk menciptakan moral baru kehidupan sosial dan keteraturan pubilik berdasarkan pada penguatan nilai kebersamaan, tanpa puritanisme dan penindasan. Yang penting dari prinsip ini, kita perlu mengimbangi nilai keakuan yang telah berakar dengan nilai-nilai kekitaan yang bersifat komunitarian. 

Singkatnya, semangat komunitarian bisa menguat sambil kita menjaga hidup sehat. Itulah inti pandangan saya saat dimintai testimoni tentang @skolari.id oleh @giattri_brilliant. Viva Skolari.id

#KataGGH #healthylife #runningissharing #skolari.id

By: Edy Ruslyanto ( Running Enthusiast ) 

 

Terinspirasi dari Pak. Sony untuk membuat catatan pengalaman berlari dan sebagai murid saya juga harus membuat laporan tentang training program MMB 2019 yang saya jalani
Program Latihan saya katakan luar biasa pengaruhnya dalam menghadapi race apalagi target jarak yang jauh..
Program latihan saya jalani sesuai dengan schedule yang diberikan Coach Valas kadang sih ada yang absen terutama interval “Maaf Coach Valas”  he he he
Untuk race di Bali ini cukup menarik terutama untuk wisata dan menikmati medannya sepanjang racenya banyak hiburan penari Bali dan antusiame dari anak2 yang memberikan support sehingga kita mau ngak mau harus melambatkan langkah untuk menikmati kegembiraan ini mirip situasi di Borobudur Marathon, bau dupa dan sajian pemandangan sungguh hal yang sangat bagi kami pengalaman yang luar biasa…
Kembali ke awal
start jam 4:30 dimana ini belum mulai masuk waktu Shubuh dan saya harus mempersiapkan diri jam 03:00 dari hotel dan parkiran menuju race agak jauh cocok buat pemanasan dan melemaskan otot2 kaki
Start di mulai tepat jam 4:30 saya berlari sengaja mengambil pace aman tapi saya tahan di pace 6:30 masih di depan pacer 5 di KM 4-5 saya harus belok ke tempat sholat yang disediakan panitia dan sudah di salip pacer 5 he he he, sarungnya banyak tapi wudhunya harus antri suhu tubuh yang sudah panas kembali dingin kira2 4 menitan saya di tempat sholat dan setelah sholat saya melanjutkan berlari dan berusaha agak cepat tapi tidak terlalu ngoyo karena jarak masih sangat jauh harus hemat energy
untuk kategori road tanjakan di Bali Marathon ini cukup lumayan dibanding road yang saya ikuti lainnya, tanjakan  mulai di KM 16   sampai KM 32 dan selanjutnya datar tapi energi sudah banyak terkuras di tanjakan-tanjakan ini dan saya menyelesaikan MMB ini sekitar 5 jam an di catatan jam saya 5:00:57 hasilnya lebih baik race di PSBM yang bisa dibawah 5 jam..
race memang ada kurang dan lebih-nya tergantung kita menikmati dan merasakannya…
review saya :
-       Untuk mengejar PB lebih baik di Bandung minim tanjakan dan untuk rekreasi sambil berlari Bali tempatnya
-       Terimakasih untuk Babeh @⁨Rinaldi Usman⁩ , Coach @⁨Valast ahmad⁩ , Coach @⁨Adri Sutopo⁩ , Coach @⁨Semmy⁩ dan teman2 Skolari

 

By: Sonny Sumarsono ( Running Enthusiast ) 

 

(HM ke2 LowHR training, medan lebih bergelombang dibanding Pocari HM Bandung)

Dengan berbekal latihan terprogram (90% menu latihan lowHR + 10% Interval, TempoRun, Strengh+Core, RF) selama 5 minggu dibawah advice/monitor Coach Valast, dari segi ikhtiar/usaha --> "saya mampu lari sejauh 21.1 Km (HM) selama +/- 3 jam".

*H-1:* nginep di lokasi dgn jarak +/- 2 km dari garis start, carbo loading cukup, tidur 4-5 jam, sarapan = air hangat jeruk nipis + juz buah + pisang 7 buah + kurma 9 biji + aqua/pocari secukupnya + berdoa.

*H-0 :* Berada di lokasi +/- 30 menit sebelum start : Melakukan pemanasan sesuai SOP 20 menit + shalat shubuh 7 menitan.
Selanjutnya menuju garis start, waktu/timer menunjukkan + 4 menit.

Mulai KM0 s.d KM6 secara perlahan saya lari dgn pace 8:30-an ber4 bersama temen Eititu Runners (sambil ngobrol skalian tes HR nyaman + aman). Selain itu, pada fase ini - butul2 kita jaga _Running Form_ dlm satu kesatuan (napas perut + gerakan lari jadi satu kesatuan yg selaras lahir bathin kita).

Tanpa terasa, kita sudah nyampe KM6 (setelah WS2), abis itu rutenya sudah mulai belok dan ada tanjakan. Kami ber4 sepakat utk lari dgn pace masing2.

Mungkin irama lari sudah terkondisi dgn baik di 6K pertama, *"saya bisa terus berlari dgn nyaman"* walopun medannya cenderung nanjak sampai KM10 dan  "rolling" (tanjakan/turunan agak curam) sampai KM 14. Sebagian kalangan runners menyebut di KM 10-14 sbg "tanjakan/turunan setan" (ada 2X).
Enaknya lagi, selain mampir minum di setiap WS, saya usahakan ngasih "tos/ucapan terimakasih" kepada group sorak anak2 + tarian/gamelan yang ada (skalian tes kondisi HR msh aman = selama bisa ngomong dgn jelas)

Ternyata masalah (PR)  saya bukan lari pas di  tanjakan, tapi lari pas  turunan (cenderung lebih cepat karena gravitasi): paha bagian depan "ngasih sinyal kring2" (tanda2 otot atau onderdil kaki gak siap alias masih perlu diimprove lagi dg _strengh training_). Setelah kecepatannya dikurangi dan lari/jalan mundur pas turunan 2-3X 50m.an,  alhamdulillah paha jadi gak terasa kring2 lagi dan bisa lanjut lari sampai tanjakan terakhir di KM 14. Adanya musik gamelan/tarian Janger khas Bali di bbrp lokasi, terasa menambah energi utk lari.

Selanjutnya mulai KM14 sampai di KM 21.1 garis finish, kondisi rute relatif datar (cenderung turun), jadi tinggal lari dengan pace nyaman. Mungkin karena sdh dikocok tanjakan/turunan sebelumnya, menjelang garis finish sudah tidak bisa dipus lagi supaya larinya lebih cepat.
Waktu di garis finish, timer tercatat 3:07 (nettnya dikurang 4) jadi waktu tempuh net = 3 jam 3 menit. Plong rasanya bisa finish dgn aman, khususnya kalo ingat etape KM 6-14.... 

Sekian, mohon maaf jika ada yg kurang berkenan, mudah2an tulisan ini ada manfaatnya dalam "proses pembelajaran lelarian kita bersama Skolari".

Terimakasih atas fasilitas dan suportnya slama ini, khususnya kpd CEO Skolari mas Eldi, bukep ceu Kiki + pengurus lainya, kutz Valast sbg PIC program MBM, kutz Adrie + Bunkut, kutz Sem, asskutz (Andy, Sofyan, Angga, Iqbal, Linda, Dhimas) dan all Skolarist atas kekompakan + kebersamaanya selama ini.

Ini tulisan pengalaman pribadi kegiatan olahraga mejalani masa pensiun sejak Januari 2013 setelah bekerja di PT Caltex/ Chevron Pacific Indonesia (CPI) selama hampir 32 tahun.
Selama bekerja di CPI karena tuntutan pekerjaan kegiatan olah-raga kurang seimbang hanya bisa dilaksanakan diakhir pekan dan jalan kaki ketempat kerja karena tinggal di komplek, sehingga berat badan membengkak dan mulai timbul beberapa gejala tidak sehat yaitu kolesterol dan asam urat tinggi diatas ambang batas. Akibatnya harus makan öbåt terus menerus untuk mengontrol kolesterol dan asam urat. Waktu masih bekerja obat-obatan masih  ditanggung perusahaan.

Setelah pensiun fasilitas pengobatan dan olahraga sudah tidak ditanggung perusahaan lagi, maka waktu memasuki pensiun misi dan pola hidup juga harus berubah yaitu bagaimana  *hidup sehat tanpa obat* dengan berolah raga yg teratur sambil mengurus keluarga, kegiatan sosial, dan keagamaan untuk bekal hari akhir.
Hidup Sehat didefinisikan sbb:
- Hasil medical cek-up dan lab normal dan tidak melebihi ambang batas terutama kolesterol, asam urat dan creatinin, liver function test.
- BMI (Body Mass Index= berat badan [kg] kwadrat / tinggi badan [cm]) normal: 22-25, sebelumnya  33-35
- Berolahraga teratur dengan tujuan untuk kesehatan dan rekreasi, bukan prestasi (sdh lewat).

Olahraga yg saya pilih setelah pensiun adalah jalan kaki dan sepeda:
- Jalan kaki karena olah raga yg paling gampang, murah, praktis serta bisa dilakukan kapan dan dimana saja, tetapi untuk memulainya memang tidak mudah harus punya tekad dan motivasi.
- Bersepeda sebagai alternatif dan selingan karena bersepeda di Jakarta dihari kerja tidak nyaman dan tidak aman dijalan umum, biasanya bersepeda dilakukan diakhir pekan bersama teman-teman pensiunan dan SMA sambil rekreasi, kadang mengiringi anak yg suka latihan lari di komplek Lanud Halim PK.

Setelah  berolahraga jalan kaki (1/2—1 jam; 3 – 4 x seminggu) dilakukan rutin setelah sholat subuh dengan selingan bersepeda selama lebih dua tahun badan lebih fit dan tidak makan öbåt kolesterol dan asam urat tetapi BMI masih diatas 33; medical test HDL dan asam urat masih diatas ambang batas walaupun sudah minum  ramuan herbal: bawang putih & jahe merah.

Bermula  sering ngawal anak latihan lari, saya diajak ikut event lari. Pertama ikut: Eco Run Pertamina tgl 29 November 2015 ikut 5K, anakku ikut 10K. Dari 5K run ini larinya hanya 1km sisanya jalan tapi dengan lari 1K keringatnya lebih banyak, disini mulai terasa “capainya” olah raga.

Waktu ikut Eco Run Pertamina ini saya ketemu Tony Hermawan (Mesin ITB-75, seumur) yg badannya masih atletis dan fit karena rajin jogging/lari; Tony mengenali/ menyapa saya karena memakai topi Mesin-75 bukan dari wajah dan badan saya yg membengkak. Para peserta EcoRun Pertamina ini  kelihatan badannya fit, sehat dan bugar baik yg muda dan manula, dari sini mulai tertarik mencoba jogging/ lari disamping jalan.

Waktu memulai lari langsung dilarang sama istri karena usia saya yg sdh mendekati 60, takut cidera terutama lutut dengan alasan lari “dilarang” untuk usia lanjut/ pensiunan.
Walaupun begitu saya mulai jalan pagi dengan diselingi lari, disini mulai terasa berkeringat dan capainya berolahraga. Waktu mulai lari ini karena kurang pemanasan terjadi “salah” urat/ urat betis ketarik dan menjadi pincang, disini istri makin melarang untuk lari. Setelah diurut oleh tukang urut yg biasa ngurut atlit sakitnya hilang.

Karena larangan istri untuk lari maka saya banyak nyari informasi lari terutama teknik lari yg benar, persiapan: warming-up, stretching, cooling-down, peralatan (sepatu), kesehatan, usia dll. dari you-tube, artikel lari, majalah lari dll. *Ternyata lari tidak ada batasan umur asal dilakukan dengan benar, pemanasan, peregangan, pendinginan dan dilakukan tengan teratur dan bertahap*.
Dari sini saya saya bisa menyakinkan istri dan mulai latihan lari dengan teratur dan bertahap, mulai dari 1 km dikombinasikan dengan jalan, kemudian ditingkatkan menjadi 2, 3, 4, 5 km dst.  Saya latihan 3-4 kali seminggu (pensiunan), recovery 2 x tiap Senin dan Kamis, selingan seminggu sekali gowes bersama teman-teman pensiunan CPI dan SMA. Awal-2nya memang berat tapi lama kelamaan terasa *kesegarannya* Waktu mulai lari ini tidak ada target waktu yg penting sampai dan dijaga tétap lari walaupun dengan pace rendah: 9-10 menit/km (pace 10 = jalan cepat) dan yg penting dalam lari jaga napas jangat sampai ter-engah-2 (ngos-ngosan) yg ditunjukan dengan heart rate stabil.

Untuk memonitor heart rate dan lari saya menggunakan applikasi HP: *Nike+ Run Club (NRC)* dan Polar Heart Rate monitor (sekarang Apple-Watch). Heart Rate waktu latihan sebaiknya dibawah 220 — umur, (patokan gampang jangan sampai ter-engah-2 waktu lari/ jalan).
Applikasi lari *NRC* disamping untuk memonitor progress juga ada program  interaktif Coach latihan yg disesuaikan dengan target dan kemampuan kita, juga ada *guided runs*.
Disamping applikasi NRC (gratis), saya mengunakan applikasi *ChiRunning* (Taichi Running)-berbayar ini apllikasi guided running komplit mulai dari pemanasan sampai stretching/ cooling down.
Kalau mau memakai pelatih/ coach banyak juga biasanya latihan di stadion Sumantri Kuningan atau GBK, taripnya bervariasi sesuai dengan kompetensinya, anak saya pernah ikut 2x seminggu fee-nya Rp 300,000,—/bulan (tahun 2016).

Saya belajar lari secara otodidak dari you-tube, applikasi NCR & ChiRunning dan sharing pengalaman dari komunitas lari.

Setelah bisa latihan lari tanpa jalan 5-an Km, saya diajak ikut event lari/ *Race* Sentul Half Marathon (SEMAR) oleh anak saya yg ikut half maratthon (HM) saya ikut 10K; alhamdulillah bisa dan kuat sampai finish. Karena merasa bisa lari 10K maka mulai mencoba event lari lainnya: Jungle Book Marathon Ujung Kulon 22K, Pocari Sweat Run 21K (HM) masih ada jalannya, Kemudian nyoba Titan Run 17.8K, Air Force Run 10K, Commpressport Run 10K dan Capital Market Run Half Marathon mulai bisa full larinya.
Di Jabodetabek banyak sekali event lari/ Race hampir tiap 1-2 minggu ada Race. Info event lari ini diperoleh dari komunitas lari *Run For Indonesia* (RFI) dan WEB: JustRunLah.com

Karena sudah merasa bisa lari HM maka saya membuat *goal baru* bisa ikut Full Marathon (FM) sebelum umur 60 tahun.
Targetnya ikut Borobudur Marathon 20 November 2016 bersama anak yg mendampingi/ ngawal marathon pertama takut nggak kuat. Marathon pertama ini saya hanya kuat lari 25 km sisanya jalan dan 2 km terahir lari, alhamdulilah bisa finish 6:36:26 dibawah COT (cut of time) 7 jam.
Marathon berikutnya ikut Balerang Bridge Marathon Batam disini ketemu Ari Soewasono (MS-87, G10-Runners) dari sini saya mulai dikenalin teman-2 G10-Runners yg hebat-hebat, saling berbagi pengalaman dan saling menyemangati.

Merasa bisa dan kuat marathon walaupun masih dicampur jalan kaki, maka di tahun 2017 saya membuat *goal baru* bisa ikut Full Marathon tanpa jalan kaki dengan persiapan yg lebih baik: marathon yg diikuti:
- Prambanan Marathon, 23 April, masih ada jalannya, alhamdulillah waktunya bisa 5:59:35
- Standard Chartered KL Marathon, 21 Mei, masih ada jalannya, alhamdulillah waktunya bisa 5:58:51 sempat lecet-2 dan kuku kaki terkelupas.
- Pocari Sweat Bandung Marathon, 30 Juli, masih ada jalan waktu: 6:08:11 medan berat & panas
- Jakarta Marathon, 29 Oktober, waktunya 6:20:19 alhamdulillah bisa full lari tapi lebih lama karena banyak istirahat di Water Station (WS) sambil recovery, ada banyak WS setelah KM-20 hampir tiap KM, malah sempat tertidur disalahsatu WS.

Setiap Race pastinya menarik, ada kekhasan dan tantangannya, juga ada pengalaman, wisata alam maupun kota, menambah teman serta wawasan dll.
Dari lari Marathon ini banyak manfaatnya yg paling dirasakan kedisiplinan karena tidak ada yg instan didunia semua perlu proses termasuk lari. Pelajaran positif lain lari bagaimana menyiapkan mental berusaha, berjuang mengontrol emosi, melatih kesabaran dan kekuatan. Disetiap Race kita berkompetisi, berjuang melawan diri sendiri.

Untuk mendukung intensitas aktifitas lari dan Marathon diperlukan nutrisi dan suplemen untuk memenuhi kebutuhan badan (ini info dari Teh Rike G10-runners):
- Gizi pokok: Karbohidrat yg glikemiks indeknya rendah, protein, lemak hewan (daging putih, ikan), saya selalu minum susu kambing & madu
- Anti oksidal, penangkal radikal bebas: habatusaudah (jinten hitam), ramuan bawang putih-jahe merah, banyak sayur & buah
- Glucosamine, biar lutut tidak “reyot”
- Omega-3, untuk kesehatan pembuluh darah dan cardiovascular supaya sirkulasi darah lancar dan lemak yg ada dalam darah lemak baik (HDL tinggi > 40; LDL < 100)
- Vitamin D, untuk kekuatan tulang dan organ, kalau lari dari sinar matahari.
Untuk nutrisi ini saya belum terlalu disiplin masih makan semuanya (tanpa pantangan) dan belum makan Omega-3 sehingga hasil lab terahir LDL dan asam urat masih sedikit diatas ambang batas.

*Tantangan “lari” diusia pensiun*:
- Persepsi bahwa lari tidak untuk orang orangtua/ manula; —> ternyata lari tidak ada batasan umur.
- Memulai dan latihan rutin, disiplin, terukur dan bertahap —> mendisiplinkan diri untuk sehat.
- Cidera lari: kesleo, salah urat, saraf kejepit; kuku terkelupas, lecet —> selalu ada pemanasan, strecthing, pendinginan, latihan kekuatan otot diluar otot-2 kaki, pakaian & sepatu yg sesuai

Hasil dan manfa’at lari rutin selama setahun lebih dikaitkan dengan tujuan hidup sehat tanpa obat adalah sbb:
1. BMI mendekati normal: 24 (berat badan turun 12 Kg, ukuran celana dari 33 menjadi 30).
2. Tidak makan öbåt kolesterol dan asam urat, walaupun hasil lab terahir LDL dan asam urat masih sedikit diatas ambang batas.
3. Badan terasa fit, segar, tidur lelap berqualitas dan jarang sekali sakit, HDL: 70 (sebelumnya 50).
4. Dijadikan “hero” oleh anak saya yg suka lari yg diposting di Instagram komunitas larinya: *”I admire runners older than I - They are now my *heros*. I want to be like them as I grow older (Frank Shorter).*
5. Hubungan suami istri menjadi lebih nikmat, kuat, lama; karena lebih fit, bugar, tidak stress kerjaan, lebih banyak bersyukur. Manfa’at terakhir ini merupakan anugerah yg tidak teripikir sama sekali sebelumnya.

Mengingat manfa’at lari yg luarbiasa walaupun hasil medical lab masih ada kekurangannya karena pola makan/ nutrisi makanan masih belum dijaga. Maka untuk 2018  saya membuat resulusi:
1. Menjaga/meningkatkam intensitas lari rutin, selektif memilih Race Marathon Lokal, Regional: Bangkok & Jakarta Marathon.
2. Mencoba Duathlon & Triathlon yang setara dengan Full Marathon, dengan mulai latihan renang. Alhamdulillah bisa menyelesaikan Powerman Indonesia Duathlon Clasic ?‍10K ??‍60K ?‍10K, Sungailiat Bangka Triathlon OD:  ?‍1.5K ??‍40K ?‍10K ,  Rhino X Triathlon Tanjung Lesung Banten: ?‍-1K ??‍-20K ?‍-10K
3. Menjaga nutrisi makanan yg sehat dan bergizi agar bisa memenuhi kebutuhan intensitas dan aktifitas olahraga serta kegiatan badan sehingga indikator kesehatan benar-benar tercapai.   

Tahun 2018 ini badan lebih segar & fit dengan BMI:24 (normal) otot lebih berisi, tidak makan obat, hasil test kolesterol dan asam urat mendekati normal karena makanan mulai dikontrol dengan asupan nutrisi yg sehat dan sesuai kebutuhan badan ditambah supplement spt Glocosamin u/ persendian; Omega-3 & bekatul u/ mengoptimalkan, regenerasi & perbaikan sel tubuh;  Habatusaudah & Ramuan Bawang Putih-Jähe Merah u/ anti oksidan. Nutrisi lain susu kambing, madu, Shake-Mix & Protein sehabis latihan.

Tahun 2019 saya ingin menguji keterbatasan tubuh saya dng mengikuti 70.3 IM sebagai Plan-A yg tidak pernah saya ikuti sebelumnya. IronMan adalah adalah lomba multi sport yang berat, bervariasi (Swim, Bike & Run) dan terukur berdasarkan kekuatan badan kita. 70.3 IM: ?‍1,9K ?‍90K ?‍21.1K.

Semoga goal baru ini bisa tercapai dan terlaksana, mohon dukungan dan do’anya.

Lukman Tedji
#RFI - 1683
#G10-Runners
#Tritathlon Buddies

By: Coach Adrie Sutopo

 

Meluruskan mengenai terminologi race berdasar jarak tempuh.

Race sampai dgn jarak 42K disebut Marathon atau full marathon (FM).

Jika jarak race sudah melebihi 42K (FM) maka disebut Ultra race.
Ultra race bisa di road ataupun bisa di trail (cross country).

Jadi ada tahapan utk naik dr jarak ke jarak race berikutnya. Latihan & strategy race berbeda, dgn demikian mindset juga pasti berbeda. Makin jauh jaraknya faktor mental & mindset makin memegang peranan utk menyelesaikan race. 

 

Saya bicara idealnya ya, 

Jgn terpengaruh dgn jarak lomba. You have to know what it feels like dlm setiap jarak lomba yg diikuti. Oleh krn itu saya sarankan ikutilah lomba dgn jarak yg sama 5-6x dulu. Mulai dr 5K. Feel...am I enjoy it? Klo yess & nyaman baru coba naik kelas. Klo gak nyaman....jangan! Berarti blm waktunya.
Tau dr mana waktunya tiba? Latihan jawabnya!!! Mau ikut race 5K...pernah kah latihan rutin lari 5K?
Mau ikut 10K, pernahkan latihan rutin lari sampai 10K?
Mau ikut HM? Saya tanya pernah gak latihan long run rutin min 20Km? Klo blm...jgn ambil. Karena setiap olga punya resikonya. Kita harus siapkan diri kita menghindari resikonya.

Mau ikut FM...okay, pernahkah latihan long run min 30K? Klo belum ya harus dicoba.
Rasakan gmn badan bereaksi,  you mind twisted dst...can you handle it? Kalo blm bisa handle, berarti blm wktnya. Khatamin dulu HM sambil coba latihan rutin 30K. Klo akhirnya sdh enak & nyaman, baru coba naik kelas.

When you ready, the way you standing in starting line pasti beda...sikap lo udah: INI GW, GW PASTI FINISH!! Knp begitu? Krn lo udah pernah rasain & punya race plan.

By: Sigrit Rahayu

#runningissharing

 

OMG... OMG... I finished BDG Ultra
 
Memang tidak target macam2 di BDG Ultra karena waktu latihan 2 bulan yang 1 bulannya benar2 off karena ga ada maid, menjadikan latihan tidak maksimal. Senewen menunggu coach finish plus lihat grafik jalurnya bikin perut mules dan asam lambung naik, beruntung ada om BH dan Angga yang comforting sangat. Malamnya utak atik race plan dengan Angga, race plan harus dibuat betapapun takutnya gw, baiklahh i know me, 7jam 30menit pasti sampai. Ini lah pentingnya mengenal diri dan membuat target terukur dan reasonable untuk diri sendiri.
 
Menunggu coach dari sore sempat lihat Taofik Hidayat, pemuda Bandung, podium 1 60K finish, lalu kami ngobrol karena memang kenal dekat, dia Brand Ambassador Magicbite, fuelingnya carbonya pakai magicbite only,  beliau ikut ITB ULTRA, sempat titip kalau ada yang berkenan sponsorin hoka Bondi, untuk race berikutnya ini. 
 
Coach finish jam 11 malam, gw kurang tidur karena the new ultra runner meriang setelah finish jadilah menjaga kesayangan sampai entah mungkin jam 2 pagi. Bangun jam 5, mual.. senewen itu datang lagi, langsung tenggak obat, sarapan, dan teh pait hangat. 
 
Start... Semua lari... Gw speed walk, tidak terpancing yang lari di depan.. karena sesungguhnya buat gw 25K itu jauh, dan gw udah jauh2 kesini COT panjang, gw mau nikmatin jalurnya. Alhasil menjadi 5 orang terakhir, tapi kuncinya adalah keep calm dan keep going. Benar saja, di tanjakan KM4, gw mulai menyusul pelari yang tersengal2 habis napas dan keram di tanjakan, 1, 2, 4... Sampai di WS 1 KM 7,6 pas 2jam, right on schedule, menyusul sekitar 10orang... Well not bad for a speed walker. 
 
Banyak berkenalan dengan teteh2 dan aa2 dijalan, begitu gw bilang "saya dari Skolari", nada mereka langsung berubah, "ohhhh Skolari yaaa" gantian gw yang terkesima, ternyata orang2 ini antusias dan kepoin skolari, bahkan pada minta Skolari buka cabang di Bandung "iya mbak, buka di Bandung dong, untuk kami yang ga punya induk macam gini"... Baiklah bersabar yaa, pasti akan ada di Bandung, sekarang baru sampai Bogor, Insha Allah Skolari ada di seluruh Indonesia.
 
Melanjutkan perjalanan dari WS dengan godaan cuanki tapi harus DNF, kembali nanjak dan ada titik dimana harus benar2 manjat. Kembali susul2an dengan satu mbak2 ternyata langganan magicbite. "Mbak, jalannya kok cepet banget, aku yang lari aja ga kekejar dari tadi, apalagi ditanjakan, kok ga brenti2, kayak happy banget? Latihannya gemana deh?" Saya kurang latihan mbak, makanya niatnya jalan aja, cuma sempat longrun 4x ke sentul... "Mbak ini endurance nya ada ini, napasnya ga habis2 saya perhatikan" kata si bapak yang satu lagi teman seperjalanan ke WS 2 KM 15, iya pakk saya latihan jaga HR, lalu gw dongeng Mafetone sampai dekat WS. Cuma pas check point gw kebelet pipis banget, melipir ke warung penduduk lalu melanjutkan perjalanan ketinggalan lagi di belakang. Tapi ya krn jalan terus berhasil juga ketemu si mbak itu tadi di tanjakan sebelum WS 2... Hai mbakkk.... "Ya ampun udah disini, cepet banget nyusulnya" lalu kami masuk WS2 bareng, 15 menit lebih awal dari jadwal bisa duduk dan makan popmie plus pipis di kebun belakang WS2. Ada bapak2 lagi yang nyamperin: " aku seneng lihat mbak ini loh bahagia dan menikmati sekali" ohh bapak, you have no idea betapa nangis2nya gw latihan di Paniisan. Check out bareng ber 4 orang srikandi trail. Melanjutkan perjalanan 4Km tanjakan sampai
KM 20. 
 
Lepas itu turunan batu lepas dan kebun teh, mereka ngebut, saya jalan aja, masih nyusul 3-4 orang lagi plus  melipir di tengah2 kebun teh yang panas buat pipis. Mulai panas menyengat, enkle yang 4x keplitek mulai sakit... Km 23 Mulai mual, males makan... Damn mulai heatstroke, mental game sekali... Untung jalur masuk kebawah kebun teh... Balik adem dikit... Lama2 energy balik lagi..emotional banget lihat paving block dan suara mc di finish line.. langsung benerin rambut, lipat topi, telp coach: I'm in... Be ready. Abis itu jogging sambil mewek, trus begitu liat pertigaan.. langsung pasang cengdem biar ga keliatan abis nangis, lari sampai finish, dan pasang pose yang udah gw pikirin sepanjang perjalanan 25K tadi. 7 jam 35 menit, i did it just on target, my target, my timing.
 
Kuncinya: pasang plan sesuai kemampuan, just keep moving, disiplin fueling tiap 30menit, hidrasi 15menit sekali. Dan pikirin hal diluar race.
 

Shopping Cart

x
 x 

Cart empty