Ada banyak cerita menarik dibalik event Jakarta Marathon Minggu (27/10) 

Diantaranya yang ditulis Kepala Sekolah Skolari Riski Sinar Respati dan Assistant Coach Skolari Andy Nurman. Semoga Runners makin menyadari pentingnya lari dengan sehat dan benar bareng Skolari. 

Finish Half Marathon di Jakmar, antara Happy dan kurangnya latihan 

by Riski Sinar Respati

Sooo happy finisihing Jakarta Marathon 2019 today!!!

Sesuai target, finish dibawah CoT (Cut off Time), ternyata ditambah pengawalan seru dari kesayangan kesayangan Skolari.id. Alhamdulillah semesta mendukung, udara hari ini sejuuk banget, mataharinya sayang sama kita. 

Satu pelajaran lagi hari ini, ternyata race gak pake latihan itu penyok sodara sodara. Badan seger alhamdulillah, bukan jaminan. Compare ke hasil timing finish MBM (Maybank Bali Marathon) kemaren malah lebih bagus, padahal waktu MBM lari dengan kepala ngawang akibat vertigo. Pas dipikir pikir, waktu MBM aku masih agak rajin ikut TP. Zonknya waktu hari H, kena vertio. Nah kalo yang Jakmar inibisa dibilang 2 minggu lebih nggak lari karena recovery dari vertigo (yang kumat lagi) dan seminggu kemaren hanya "dipanasin" 2-3 km aja beberapa hari. 

Kesimpulan dan saran, emang bener latihan gak akan mengkhianati hasil. Apa yang ditanam itu yang dituai. Asli nextnya bakal lebih nurut sama coach dan TP nya. Thank you so much, love you to the mooon and back kuchie kesayangan Valast Ahmad. Let's Rock BFI 2020

 

Pengalaman pertama Lelarian 10K di jalanan Ibukota

by Andy Nurman 

Jakarta Marathon 2019

10K kedua saya setelah Miloji 2019, kenapa saya tidak ambil HM atau FM, ini karena pendaftaran JakMar buka di awal tahun, dan saya ingat pesan Coach untuk memperbaiki dulu 10K, makan mendaftarlah di 10K. 

Next year FM seru kali yaaaa... 

Perdana race dijalanan ibu kota. Seru juga karena lari di jalan yang setiap hari dilewatin kerja. Jadi sudah hafal di depan ada apa saja. 

Catatan waktu masih tidak terlalu jauh dengan race sebelumnya (unofficial time 55.46) tapi yang saya rasakan bedanya, tidak butuh effort yang terlalu berlebih ketimbang race 10K sebelumnya, sehingga bisa langsung recovery dan tidak merasakan sakit di kaki sedikitpun. Terimakasih Skolari, atas supportnya, thanks juga buat skolarist yang selalu mendoakan. GBU 

 

By: Theresia Lirani (Running Enthusiast) 

Sudah lama saya menjadikan jogging atau lari sebagai cara saya mendapatkan badan yang fit. Hampir setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, saya memanfaatkan 1 jam untuk sekadar berlari-lari kecil di lingkungan tempat tinggal.

Sampai saya merasa bahwa untuk urusan olahraga yang satu ini, saya tidak perlu belajar apa-apa lagi. Tinggal pakai sepatu lari, pemanasan sedikit, berangkat…!

Suatu ketika, saya ngobrol dengan Mas Eldi, teman kantor yang ternyata pegiat lari. Mungkin karena antusiasme saya, Mas Eldi meminta saya untuk bergabung dengan teman-teman Skolari. Kebetulan, saat itu saya sangat ingin mengikuti ajang Pocari Sweat, dan tidak ada teman yang bisa saya ajak. Untungnya, teman-teman di sini welcome banget. Walau saya hanya pemula, bukan pelari kencang seperti mereka, mereka tidak hanya welcome, tetapi juga mau mengajarkan saya.

Di kesempatan pertama saya bergabung latihan bareng Skolari, saya terkaget-kaget, karena ternyata cara lari yang salama ini aku lakukan ‘amburadul’, bahkan jauh dari teknik yang seharusnya.

“usahakan kepala lurus, jaga pandangan ke depan!” “Tegakkan dada!” “Jaga Nafas biar teratur!”… dan hal lain yang diajarkan teman-teman di sini yang membuka wawasan saya tentang teknik lari yang baik. Saya langsung berpikir, pantas saja selama ini saya merasa cepat sekali capek ketika berlari dan inginnya segera berhenti. Yang saya pikir itu adalah karena faktor “U”, ternyata lebih dikarenakan teknik larinya yang tidak benar. Paling tidak, pemahaman ini akan saya simpan untuk menemani saya berlari tanpa diganggu oleh pikiran “U” tersebut.

Sehari sebelum hari H, pikiran ‘pemula’ kembali memenuhi kepala saya. ‘Bisa nggak ya saya lari di ajang ini?’, mengingat begitu banyak pelari-pelari kencang yang berlomba-lomba untuk mengikuti ajang Pocari Sweat ini. Sampai kemudian saya bertanya ke Mas Eldi, “Beneran nih, saya boleh menggunakan seragam Skolari? Saya khawatir jadi malu-maluin. Lariku kan belum bagus. Nanti malah ada yang ngatain, ‘Skolari kok larinya jelek, finish-nya paling buntut? Dan sebagainya’.

Mas Eldi yang memahami masalah saya tersebut, akhirnya memotivasi aku. Dia bilang, “Ayolah, Mbak pasti bisa. Yakin sajalah. Tidak usah memikirkan menang atau kalah. Yang penting kita lari yang benar saja, lalu finish strong and happy”.

Ajang yang ditunggu-tunggu sekaligus mencemaskan itupun akhirnya datang juga. Seperti kata Mas Eldi, saya mencoba mengosongkan pikiran yang bisa membebani. Sambil berharap agar tidak finish paling bontot.

Sampai pada sesi pemanasan dan peregangan bareng teman-teman skolari sebelum lomba, saya masih malu-malu menggunakan seragam Skolari. Takut bakal mengecewakan mereka. Sampai pada akhirnya, GO! Sayapun berlari 10K untuk pertama kalinya.

Upaya saya untuk sebisa mungkin mengurangi beban pikiran sepertinya berhasil. Setelah berjuang mengalahkan berbagai pikiran di kepala, saya berhasil sampai di titik finish. Dan yang mengejutkan adalah, ternyata waktu finishku termasuk yang bagus. Jelas girang banget. Jadi tidak memalukan. Aku segera laporan ke mas Eldi, “Yess... Ternyata aku bisa Finish Strong and Happy!”

Berbekal pengalaman tersebut, rasa percaya diriku mulai timbul, dan semakin keranjingan lari. Setiap ada informasi lomba lari saya ikutan. Target saya adalah, selalu untuk mencoba memperbaiki baik secara teknik, maupun rekornya. Walaupun, kalau dibilang bagus-bagus sekali aku belum yakin juga. Paling tidak, pedenya mulai ada.

Sampai sekarang, aku sudah mengenakan seragam skolari untuk yang ketiga kalinya. Dan yang aku rasakan, semakin ke sini, aku semakin pede karena bisa berlari tanpa ada keharusan untuk memenuhi harapan siapapun. “Run for fun, Finish Strong, and be Happy”. Itulah aku sekarang, berkat Skolari.

By: Agus Hermawan ( Running Enthusiast ) IG: @abah_ush

Well, Chicago Marathon 2019!
 
Chicago Marathon alias Chimar yang berlangsung Minggu (13 Oktober 2019) lalu merupakan
world marathon majors yang ketiga buat saya. Sebelumnya saya sudah mencicipi Tokyo Marathon dan
Berlin Marathon 2018. Sebenernya sih, saya tidak ada ambisi untuk mendapatkan Six Stars dengan
melengkapinya dengan London Marathon, New York Marathon apalagi Boston Marathon misalnya. Tapi
kalau ada rezeki siapa tahu, ha … ha…
Sebagai penggiat lari, dan seringkali diminta untuk memberi masukan – semacam konsultan
mungkin yaa—saya menjadikan event-event kelas dunia itu sebagai pembelajaran. Jadi ketika ikut diajak
urun rembuk untuk sebuah acara maraton misalnya, wawasan saya lumayan terbuka. “Pacer kehidupan”
saya Safrita Aryana—yang dikenal sebagai race director IdeaRun-- pun bukan melulu menjadi tim
support saya, tetapi juga sekaligus melakukan studi banding seperti juga di beberapa event maraton
internasional lainnya. Saat menjadi bagian tim untuk Borobudur Marathon 2017 misalnya, saya
mengusulkan agar event di salah satu heritage dunia itu harus reborn! Atau dilahirkan kembali, dan
sama sekali “lepas” dari event sebelumnya yang babak belur. Itulah yang kemudian Borobudur
Marathon 2017 yang kemudian digodok tim komunikasi dan lahir tag “Reborn Harmony”.
Chimar bagi pelari Indonesia, dikenal sebagai event yang “mudah” untuk mendapakan slot.
“Pokoknya, dari empat orang yang ikut ballot, pasti tiga orangnya dapet deh,” ujar seorang teman. Ya
mungkin karena itu juga, tercatat sebanyak 200-an orang pelari Indonesia ikut Chimar tahun ini.
Seluruhnya ada sekitar 400 an orang pelari Indonesia, termasuk WNI yang berdatangan dari berbagai
negara yang mengaspal di hutan beton Chicago bersama lebih dari 45.000 pelari dari 100 negara.
Sejak mendapat email dari penyelenggara Chicago Marathon ke-42 bulan Februari-Maret saya
langsung mempersiapkan diri. Saya bukan tipe pelari yang sering ikut maraton, tetapi hanya mengikuti
maraton tertentu saja dan menikmati program latihannya. Target finis maraton under COT dan enggak
penyok menjadi motivasi untuk tetap berlatih dan berolah raga terprogam. Dari pengalaman, kalau
sekedar untuk kebugaran saja, latihan olah raga seringkali menjadi ogah-ogahan dan ngasal.
Walaupun bukan maraton pertama kali, seperti biasa saya menjalani program latihan maraton.
Kali ini saya mencoba bersama coach Rudy Dimyana, sahabat saya yang juga dikenal sebagai coach
terbaik versi Asia Trail Master tahun 2018. Kedekatan saya, sebagai urang Bandung dengan barudak
Bandrex dan kebandungan—bukan kebadungan-- saya menjadi salah satu pertimbangan. Coach Rudy
memberikan program yang “keras” walaupun terasa nyaman dijalani.
Program latihan dengan mileage bertahap hingga 50-80 kilometer per minggu dengan 5 hari
latihan sebenarnya lebih dari cukup. Tetapi sebagai orang gajian dengan jam kerja tidak menentu,
menjadikan program latihan memang hanya tercapai 70-80 persen saja. Saat harus long run di akhir
pekan, apa daya harus ke luar kota. Saat hari latihan bangun pagi, lepas tengah malam baru nyampe
rumah. Latihan strength, salah satu latihan kunci untuk maraton pun kurang terasa maksimal.
Apalagi, plantar sejak ikut Volcano Run awal tahun , belum juga pulih total.
 
Sebuah latihan interval akibat ceroboh kurang pemanasan sempat terasa gejala ITBS,.Lutut regas di usia 57
tahun pun sempat bermasalah walaupun saya abaikan dengan latihan squat.
 
“Windy City”
 
Salah satu teror Chimar adalah kota itu sangat berangin dan suhu dingin. Cuaca tidak menentu.
“Beneran deh, pas lari badan kita bisa kedorong ama angin,” ujar Adriansyah Chaniago alias Bang Aad.
Salah satu pemegang Six Stars dari Indonesia itu memang menjadi salah satu referensi saya untuk
mengetahui kondisi Chimar. Bang Aad dikenal sebagai marathoner kawakan yang rinci mengetahu seluk
beluk setiap lomba yang diikutinya. “Dia tahu, di kilometer berapa ada apa, lengkap,” ujar Sabrina Ghani,
sahabat saya di RFI Trail yang tahun ini barengan ikut Chimar. (Ina ini yang belakangan menepuk gue di
kilometer 30 nanti saat saya jalan di sebuah jembatan dan menyalip saya…. Duuhh !!)
Apa yang disampaikan Bang Aad soal Chimar ini memang terbukti saat saya menjalaninya. Cuaca
yang tidak menentu hendaknya menjadi perhatian mereka yang akan berlari di Chimar. Suhu dingin dan
angin kencang bisa terjadi kapan saja. Hujan saat berlangsung lomba pun bisa saja terjadi seperti
kejadian di tahun sebelumnya. Panitia setiap hari memberi update tentang cuaca melalui email atau
aplikasi Chimar yang memberi warna sesuai dengan ancaman cuaca: hijau (rendah), kuning (moderat),
merah (tinggi) dan hitam (ekstrem). Hijau adalah kondisi terbaik dengan kondisi nyaman, walaupun
pelari tetap diminta waspada.
Untuk itulah saya menyiapkan dua set gears lari: untuk hujan dan tidak hujan dengan catatan
suhu sangat dingin tetap diwaspadai. Jangan lupa bawa penahan dingin saat jelang start, bisa jaket yang
siap buang, emergency blangket, selimut atau ponco plastic sederhana.
Menunggu lebih dari dua jam sejak kedatangan di garis start, tubuh memerlukan penahan
dingin. Apalagi seperti saya sebagai “pelatih” – pelari telat dan tertatih-tatih—mendapat Coral K (saya
kok bacanya koral K (eong).. ha ha…
Saya menggunakan ponco plastik keresek, lumayan membantu. Makdel, teman dari Indonesia
yang juga ikut Chimar tahun ini, malah menggunakan 4 lapis baju dan celana. Cara yang menurut saya,
tidak disarankan karena setelah lari 10 kilometeran ternyata tubuh menghangat. Belum lagi selepas 21
km, walaupun suhu tidak sedingin saat start (sekitar 4 derajat C dengan feel -2 derajat C), tetapi angina
terus menggigit tubuh. Angin menerpa tubuh dan membuat goyang tubuh beberapa kali terjadi,
terutama di sekitar kilometer 30an, saat berlari di antara hutan beton yang malah membentuk semacam
terowongan angina.
Yah, namanya maraton yang juga seperti kehidupan ya. Apa saja bisa terjadi di depan. Saya yang
enjoy dan happy berlari dengan pace nyaman ternyata akhirnya terasa kraam selepas kilometer 24-an.
Salt stick tidak membantu. Bisa jadi, kraam saya bukan karena kekurangan garam elektroit tetapi latihan
strength yang minus penyebabnya.
Selanjutnya daripada kaki ngelock dan enggak bisa lari, saya melakukan manajemen
memadukan lari dan power walk. Sambutan warga di sepanjang lintasan menjadi hiburan tersendiri dan
menjadi penyemangat. Oh, ya penanda jarak di Chimar menggunakan mile, dan KM di setiap lima
kilometer. Sportwatch juga umumnya pembacaan GPS-nya kacau sehingga pace dan jarak di jam
menjadi rancu. Masak pelari keong model gue di jam sampai half marathon pace terbanya 5.20-5.30 ha
ha gak mungkin banget mengingat pace 7 saja saya sudah hah heh hoh….
 
Ya, singkat cerita. Alhamdulillah, finish dengan bahagia. Tidak mendapatkan personal best
memang, tetapi saya bahagia menjalaninya. Kapan-kapan kalo ada yang mau ke Chicago Marathon
berikutnya, bisa kok kita sharing ya bersama Skolari). Tetap semangat ya!

By: Gia Putri

Training Program selama dua minggu ke depan kembali dirilis Coach Adrie Soetopo di WAG TP Wanitrail Skolari, saya girang bukan main karena kami akan kembali mempraktekan trail running di medannya langsung. Kali ini lokasi yang dipilih adalah UI Bike Park, Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat pada 20 Oktober.

Coach menggarisbawahi untuk membawa perlengkapan trail, seperti sepatu trail run, hydro bag, camilan, dan P3K. Serunya lagi, coach bilang akan membawa serta squad-nya, yaitu dua putranya Josef dan Domi plus Lola si beagle gembil.

Hari yang ditunggu pun tiba, kami janji bertemu di Stadion UI pukul 06.15 WIB, ketika saya sampai sudah ada Coach Adrie, Kak Sigrit Rahayu, Adrie’s Squad (yang tadi saya sebutkan di atas), Kak Intan Nuritasari, Kak Winny Gardiana, Bang Dhimas Prayoga, menyusul kemudian Kak Shendy, Kak Linda Subandono, dan Bang Dude Demplon.

Kami pun melakukan pemanasan lalu berjalan menuju pintu masuk UI Bike Park. Saat sampai di depan UI Bike Park, sudah banyak pesepeda yang tengah nongkrong, sekadar ngobrol atau makan-makanan yang dijajakan di pinggir jalan. Sementara, kami melakukan ritual foto bareng sebelum lelarian di tanah UI.

Tempat ini sejatinya diperuntukkan bagi komunitas sepeda. Nama tempatnya saja UI Bike Park, tetapi tidak ada larangan bagi mereka yang ingin ikut mencoba tantangan lari lintas alam di sini. Jarak dari start hingga finish yang dibuat komunitas sepeda Roam UI mencapai 7 kilometer dengan bentuk melingkar (looping).

Namun, kita bisa keluar sebelum itu dengan mengikuti rambu yang ada. Jangan khawatir tersesat di dalam hutan karena ada cukup banyak petunjuk arah. Kendati demikian, dianjurkan berlari dalam kelompok atau minimal berdua, jangan hanya sendiri. Walaupun Hutan UI terbuka untuk umum selama 24 jam sebaiknya berlari di pagi hari daripada sore hari.

Grup lari terbagi menjadi dua. Grup pertama adalah saya, Kak Linda, Kak Shendy, Bang Dude Demplon, dan Bang Dhimas Beck. Sedangkan, grup dua adalah Coach Adrie, Kak Sigrit, krucil (kru cilik), Lola, Kak Intan, dan Kak Winny. 

Saat kami mulai lelarian, kami disambut dengan trek asoi yang tidak mengeluarkan banyak keringat, masih bisa lari-lari cantik (BB cream tidak luntur). Namun, semakin jauh, trek sudah mulai bervariasi, ada banyak tanjakan manis (bersahabat dengan dengkul), turunan asoi, dan alhamdulillah-nya trek datarnya juga banyak, jadi tidak bikin gempor.

Di sini, selain bisa berlatih lari lintas alam, kami banyak disuguhkan spot yang bisa  memenuhi hasrat untuk mendapatkan foto-foto kece, seperti danau hingga landmark papan raksasa Universitas Indonesia yang menjadi buruan para penjelajah hutan. Hasilnya memang sangat berbeda dibandingkan pengunjung biasa yang hanya bisa berfoto di area terdepan di luar pagar.
Berlari di alam seperti ini juga harus tetap mawas diri dan fokus, kalau tidak bakal mengalami hal kurang menyenangkan seperti saya, yakni terjatuh karena tersandung akar. Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya itu loh luar biasa. Pasalnya, di belakang saya ada beberapa pesepeda. Saya pura-pura staycool, padahal dalam hati meringis kesakitan. Dude Demplon dengan sigap membantu saya berdiri. Setelah itu, kami kembali lelarian.

Saya berlari total dua loop, tapi tidak pure lari, saya kombinasikan dengan jalan cepat. Loop kedua, saya agak lemah karena sangat lapar, jadi besok-besok kalau trail running lagi harus bawa kudapan untuk pengisi tenaga karena saat lapar saya suka mendadak bego dan kehilangan gairah.

Di loop ke dua, saya bareng kak Shendy, agak tidak enak hati karena kami terbilang lama alhasil ditunggu oleh Skolarist lainnya. Saat beberes untuk kembali ke rumah masing-masing, saya sempat cerita ke Coach Adrie bahwa saya melihat ada pesepeda, seorang pria paruh baya, terjatuh dan setengah tidak sadar. Terus coach menanggapi, “Gw juga lihat, banyak pesepeda yang tidak safety procedure, tidak pakai helm, pelindung siku dan lutut, padahal bersepeda di alam itu bisa berakibat fatal kalau menyepelekan. Gw dulu juga pernah beberapa patah tulang.”

Ya, memang sudah ada peraturan yang dipaparkan di beberapa plang, cuma masih ada beberapa pesepeda yang bandel dan menganggap enteng.
Saya juga bertemu dengan dua pesepeda cilik yang masih duduk di bangku SD. Saya membuka obrolan, “Dik, kok mukanya cemong, tadi jatuh.”
“Enggak…,” jawabnya.
“Kalian berdua saja?”
“Kami bertiga, cuma teman kami terpisah, enggak tahu dia kemana.”

Saat di pertengahan jalan pada loop 2, saya berpapasan lagi dengan kedua anak itu, untungnya ada beberapa pesepada dewasa yang mendampingi agar mereka aman dan tidak tersesat.

Melihat kejadian itu, saran saya, ada aturan tegas bahwa bersepeda di UI Bike Park harus ada batasan usia karena takut terjadi hal yang tidak diharapkan.

Itulah pengalaman saya trail running di UI Bike Park. First impression, suka. Ke sini lagi? Big yes! Tapi, kayanya kudu mengambil hari selain Minggu agar tidak berebutan jalur dengan banyak pesepeda.

By: Valast Ahmad (Skolari Coach)
 
Gold Coast Marathon (GCM) adalah salah satu goal saya di 2019, pengen personal best di race ini
 
Dimulai dgn daftar di awal januari dan mempersiapkan sisi “domestik” nya utk keperluan kesana, dan plan halan-halan nya setelah race
 
Akomadasi dan syarat legal (visa) utk bisa ke Australia dipersiapkan.
 
Domestik selesai, sekarang persiapan untuk race nya sendiri
Saya persiapkan diri saya untuk 16 minggu berlatih, atau sekitar 4 bulan. Karena race di awaj Juli, program latihan saya mulai di awal Maret. 
 
Mencoba memenuhi waktu latihan 5 hari dlm seminggu, 2 hari waktu buat rest day, dengan jumlah km yang sudah disiapkan secara bertahap setiap minggu nya
 
Selain latihan lari dengan menu easy run, tempo run, interval, speed play dan Long run, saya juga berlatih core dan strength training, untuk memperkuat big muscle paha dan bagian panggul.
 
Ujian terberat untuk persiapan GCM ini adalah bulan may, bulan Ramadhan. 
Bulan Ramadhan latihan sdh mulai memasuki peak, dimana Long run nya sdh di atas 20k per minggu. Untuk latiham harian saya siasati dengan sahur lebih pagi sekitar 3:30, jam 4 saya start latihan, spy sampai menjelang imsak saya masih bisa minum, pas azan pulang dulu utk subuh dan kemudian di lanjutkan kembali. Oya tambahan informasi sy berlatih di sekitar komplek rumah supaya lebih aman, banyak pak satpam ??
Untuk Long run saya lakukan di sabtu malam, setalah taraweh, dan latihannya tetap sekitar komplek karena sdh dipastikan jam 23:00 kadang saya masih latihan ahahhahaha
Pak Satpam sih santai krn ini pemandangan yang sdh biasa bagi mrk melihat saya latihan sampai malam kalau bulan Ramadhan.
 
Dan Trainining plan bulan Ramadhan pun berjalan dengan lancar.
Jadi ibadah bukan alasan untuk tidak latihan ya gaessss ??
 
Memasuki awal bulan juni adalah peak training saya buat GCM
Di minggu ke 2 Juni sampai minggu ke 3 Juni latihan saya sudah mulai turun, dan minggu ke 4 juni, week taper off
Yess! Hari yang dinanti akan segera datang.. 7 Juli adalah waktu yang di tunggu-tunggu ?
 
Berangkat Kamis malam ke Gold coast, Jumat pagi 5 Juli landing di sydney utk transit, dan sekitar jam 11 saya sdh di Gold coast. Kota yang indah dengan suasasa pantai, yaaa seperti Bali lah dengan tampilan yang modern.
Cuaca saat itu kalau kata orang sana saat ini tidak seperti Cold coast yg biasanya
Angin nya kencang dan hujan
Hmmmmm kita tidak boleh berkecil hati, jangan sampai tertanam di pikiran kita  cuaca tsb berefek negative ke kita, Mari bayangkan yang senang-senang aja. 
 
Setelah istirahat sebentar di hotel, mandi, saya menuju expo pengambilan race pack, dari hotel naik tram dan turun pas di depan expo nya. Lumayan banyak barang2 perlengkapan olah raga di expo, muter2 expo sekalian cari oleh2 buat teman2 di Jakarta. Transportasi umum disana sangat menyenangkan. Malamnya dinner di Hard rock cafe dengan teman2 pelari dari Jakarta, ada coach Chaidir akbar, Coach iyan, Cak Roi dan chieko teman2 dari Bintaro.Setwlah dinner kita janjian untuk lari bareng sabtu pagi nya di pantai Surfer Paradise.
 
Sabtu pagi kita katihan sekalian penyesuaian cuaca disana. Dan anginnya memang kencang banget yaaaa ??
Sabtu pagi kita lari juga bareng Uni Malanie Putria, dan ketemu juga dengan pelari andalam Indonesia mas Agus Prayogo dan Mba Trianingsih,Ikutan GCM juga untuk jarak Half marathon
 
Sabtu nya setelah sholat Isya, beresin perlengkapan buat Minggu saya istrirahat, Race nya dimulai sekitar jam 7:20
 
Minggu bangun subuh yang pertama dilakukan melihat ke jendela, liat pohon2 apakah meliuk-liuk seperti hari sebelumnya, alhamdulillah pohon2 tidak terlalu meliuk-liuk ditiup angin.
 
Berangkat menuju venue seperti biasa dengan tram, dan posisi venue juga dekat dengan stasiun tram. Oya hari Minggu semua yang memakai BIB free naik tram sampai jam 15:00.. Lumayaaan ?
 
Sampai di race area seperti biasa ketemu teman2 dari Indonesia, Foto-foto dan bersama2 menuju start line. 
 
Menjelang start langit susah gelap lagi.. dan kira2 sekitar 15 mnt sebelum start hujan deras. Kami sdh persiapkan jas hujan, tapi krn deras baju tetap basah dan sepatu sdh basah juga
 Alhamdulillah menjelang gun start mulai reda, dan kami start masih hujan walopun sdh tidak deras.
 
Sepanjang perjalanan hanya berdoa dan positive thinking bahwa kaki tidak akan blister.
Alhamdulillah kaki aman dari blister walopun sepatu sdh sangat basah.
 
Cuaca nya galau, kadang hujan, gerimis, kemudian muncul matahari, mendung lagi, angin seperti biasa lumayan kencang.
 
Di km 11 muncul pelangi, double rainbow!
Yess badai pasti berlalu katanya ahahahaha.
 
Berusaha menjaga pace supaya bisa finish sesuai dengan target, menikmati trek, menikmati pantai dan anginnya.. Dan setalah 4 jam 28 menit berlari akhirnya finish juga. Yess PB gaesss sesuai dengan target sub 4:30.. Alhamdulillah ??
 
oiya.. selama race saya berbekal kurma 5 buah dan minum
isotonic dan air putih di WS
 
Demikian cerita saya persiapan Marathon, Respect your race dengan latihan yg baik.

By: Andy Nurman (Skolari Assistant Coach)

Akhir Januari 2019  saya bergabung diskolari.

Berawal dari seorang teman dikantor yang mengajak saya untuk  training di skolari.
Tujuan awal saya ikut komunitas lari, biar bisa berolahraga bersama-sama agar badan jadi sehat.

Menurut saya skolari seperti "Oase di Padang Pasir" untuk pelari-pelari kantoran seperti saya.

Banyak sekali manfaat dan Ilmu basic berlari yang saya dapatkan dari skolari. Banyak orang yang takut bergabung dengan komunitas lari karena berpikir bayar, isinya pelari-pelari kencang semua, takut dengan jarak tempuh. Semua hal itu dijawab oleh skolari..
1. Skolari memberikan pelayanan gratis
2. Ilmu dasar berlari atau disebut Running Form yang diajarkan diawal, membuat kita bisa belari dengan benar dan sehat.
3. Di skolari semua jenis pelari kumpul, pemula, profesional semua ada. Jadi tidak perlu khawatir dan semua anggota ramah2, kayak petugas hotel hahahaha...

Ilmu pertama yang saya dapat yaitu "Running Form" ini menu yang selalu diulang-ulang oleh coach Adrie Soetopo, beliau adalah coach pertama diskolari. Saat ini sudah ada 2 coach tambahan yaitu coach Samuel dan Coach Valast yang sama2 luar biasa ilmunya.

Dengan materi running form yang selalu diulang ditambah dengan materi lari pendukung lainnya, dibantu  kedisiplinan hadir dan menu training yg diajarkan coaches skolari, dalam waktu singkat sekitar beberapa bulan saya mampu berlari dg kecepatan yang cukup lumayan dan jarak yang cukup jauh. Saya masih ingat awal ikut latihan 2x putaran GBK selalu perut saya terasa sakit.

Hal ini terbukti pada saat "Race Binloop 2019". Ini adalah race pertama saya. Kategori yang saya ikuti waktu itu adalah 60k relay (5 orang). Jadi 1 orang menempuh 12km. Catatan waktu saya 01:11 menit (kalo gak salah ya)
Dengan status saya sbagai pemula, newbie gak pernah belajar lari, dan pekerja kantoran.

Saya kagum dengan skolari, keramahan para pengurus dan kehangatan teman yang ada diskolari membuat saya bersemangat untuk selalu hadir latihan.

Semua diberikan secara GRATIS, air mineral saat berlatih, tempat penitipan tas, dan pogram latian yang selalu berganti-ganti.

Semua tidak ada yang instan, asal kita bisa disiplin, semua akan tercapai dengan sendirinya.

By: Gia Putri

Maybe it’s time to move away

I forget Jakarta

And all the empty promises will fall

Akhir-akhir ini suasana hati saya sedang mengharu biru, mungkin sedang suntuk dengan rutinitas sehari-hari, sedang jengah dengan situasi politik di Jakarta! Lagu Aditya Sofyan bertajuk ‘Forget Jakarta’ terus saya putar. Ya, saya memang benar-benar ingin melupakan sejenak hiruk pikuk ibu kota.

Karenanya, ketika Skolari-Sekolah Lari mengumumkan akan mengadakan latihan medan Wanitrail ke Cisadon pada 6 Oktober 2019, saya sangat antusias. Di dalam pikiran saya, wah saya akan bertemu dengan yang hijau-hijau, udara segar, gemericik air, juga suara serangga yang saling bersahut. Sudah lama rasanya, tidak bermain di alam. Terakhir, bulan Agustus lalu, saya mendaki ke Gunung Sindoro, Jawa Tengah.

Sebelum trail running di Cisadon, Coach Adrie Soetopo mengumumkan di whatsapp group (WAG), gear apa saja yang harus di bawa, seperti sepatu trailhydro bag, pakaian yang nyaman, hingga penganan ringan selama di jalur. Meskipun bakal ada dua water station (Warung Cisadon & Warung Curug Love), kami harus membawa kudapan ringan untuk penambah energi. Selain itu, Coach Adrie juga meminta kami para peserta Training Programs (TP) Wanitrail mengisi formulir assesment untuk dipelajari bagaimana kondisi masing-masing orang (untung tidak ada pertanyaan kondisi hati, bingung jawabnya! Haha).

Hari H pun tiba, sebelum memulai pengenalan medan trail, kami semua kumpul di Rumah Kopi Wan Tuw Tree, Babakan Madang, Jawa Barat. Total yang berangkat ada 18 orang, yakni Coach Adrie, Bang Lucky Angga, Bang Dhimas Beck Prayoga, Bang Dude Sofyan Herlino yang tamvan se-Jakarta Utara dan sekitarnya (sumpah ini special request dari yang bersangkutan, yang ingin namanya disebut demikian), Ka Sigrit Rahayu, Ka Dewi Ratna, Kak Shendy Ariel, Kak Shita, Kak Dita, Ka Riski Sinnar Respati, Bang Angga Paripurna, Ka Winny Gardiana, Kak Dira, Kak Linda, Kak Miranti, Bang Heri Pranata, dan Ka Dyan Novita.

Dari Rumah Kopi Wan Tuw Tree menuju KM 0, kami diangkut dengan mobil bak terbuka. Pemandangan sekitar Sentul sangat memanjakan mata, ditambah udara segar mengiringi perjalanan kami.

Sebelum start trail running, kami mengawalinya dengan doa bersama dan pemanasan di Lapangan Bendera yang dipimpin oleh Bang Dhimas. Setelah itu, kami bergerak menuju Kampung Cisadon, jalurnya tidak nahan, nanjaak pedaaas! saya memilih untuk jalan cepat atau lari tipis-tipis.

Dari pertigaan Cisadon, kami melewati Pondok Pemburu. Saya hanya melihat tanah kosong, ternyata pondok yang dulunya dibuat istirahat oleh orang-orang yang hobi berburu ini sekarang sudah dibongkar. Jadi, patokannya adalah sungai kecil yang dilewati saat perjalanan

Sekitar tiga jam perjalanan, kami sampai di Kampung Cisadon. Kami sangat senang karena bisa melepas lelah di Warung Cisadon sembari loading carbo. Tersedia minuman segar, sop ayam, orek tempe, telur dadar, telur rebus, nasi, sayur sop, Indomie telur, hingga kopi luwak. Di sekitar warung ini terbilang asyik untuk ber-selfie ria atau berswafoto, sembari melihat pemandangan Gunung Salak yang molek, terdapat pula empang berukuran lumayan besar yang airnya masih jernih. Jadilah setelah sesi makan dan berbincang ringan, kami berfoto ria.

Setelah itu, kami kembali memulai perjalanan, lokasi berikutnya adalah Curug Love. Jaraknya itu 3 Km. Kami kudu melewati turunan tremor yang bikin gempor. Kami juga harus melewati kanopi pepohonan dan menembus hutan bambu sehingga membuat adrenalin semakin terpompa.

Setelah disiksa dengan turunan yang menukik tajam, akhirnya kami sampai di Curug Love. Curug yang dikenal oleh warga setempat bernama Curug Catang ini merupakan salah satu curug yang masih jarang dikunjungi orang banyak karena minimnya informasi.Keunikan dari curug ini adalah tempatnya yang bukan berada di lereng gunung atau bukit melainkan di tengah-tengah persawahan dan perkebunan yang di sekelilingnya bersandingkan bukit.

Keindahan Curug Love adalah bentuk bebatuannya yang berkelok dan mengapit dengan goresan-goresan yang terbentuk alami akibat abrasi air yang mengalir di sepanjang lorong bebatuan serta air terjunnya yang berasal dari aliran air lereng bukit dengan ketinggian sekitar tiga meter.Dan, di beberapa titik terdapat kolam-kolam yang ke dalamannya sekitar satu setengah meter saat debit air tidak terlalu deras dengan warna air yang hijau. Namun, jika musim hujan datang maka debit air akan meninggi. Di atas bebatuan Curug Love merupakan persawahan dan perkebunan sehingga tepi-tepi bebatuannya pun ditumbuhi oleh tanaman dan pepohonan serta terdapatnya selang-selang panjang yang airnya di manfaatkan oleh warga setempat untuk mengairi persawahan dan perkebunan.

Kami pun satu demi satu nyebur ke Curug Love, rasa lelah hilang seketika. Kami bercanda, bermain air, dan yang pasti berfoto ria. Setelah puas, kami beristirahat sejenak di warung sekitar. Dari sini, saya dapat bocoran untuk sampai ke lokasi finish hanya dua jam saja. Coach Adrie bilang, kalau yang ingin duluan bisa mengekor Ka Sigrit.

Perjalanan menuju finish, yaitu Desa Babakan Madang, terasa lebih santai karena banyak turunan, tapi mendekati akhir perjalanan kami disambut oleh sedikit tanjakan yang lumayan membuat peluh keluar.

Melihat perumahan warga dan jalanan sudah diaspal, saya sontak ngengir lebar, artinya kami sudah sampai di finish. Mobil bak terbuka juga sudah siap mengangkut kami ke Rumah Kopi Wan Tuw Tree.

***

Pengenalan medan trail ke Cisadon ini menjadi sarana melepas penat yang baik karena membuat happy, meskipun tak bisa dipungkiri lumayan menguras tenaga dan dua kuku kaki saya hampir copot, haha!

Beberapa nilai plus lari trail adalah udara sejuk dan bersih. Ini paling terasa. Terlebih di atas ketinggian. Lalu, melatih keseimbangan. Kudu pintar meliuk-liuk bahkan membungkuk, jika ada halangan pohon yang menjorok ke jalan setapak. Lari di alam juga memiliki risiko cedera yang lebih tinggi, terutama di ankle kaki. Gerakan memilih tapak yang pas untuk kaki menjejak membuat rentan cidera. Jika yang terinjak adalah batu yang labil bisa keseleo. Atau permukaan yang licin bisa terpeleset. Jadi, harus selalu waspada!

Akhir kata, itu sedikit cerita perjalanan saya bersama Skolari ke Cisadon. Saya tidak sabar mengikuti latihan selanjutnya! Jadi, kapan kita ke mana?

By Valast Ahmad (coach Skolari)

Buat kalian yang sudah berhasil mendapatkan slot di Borobudur Marathon 2019, selamat ya! Saringan tahap pertama sudah berhasil dilalui.
Nah tiba saatnya untuk mempersiapkan ujian yang sebenarnya, yaitu trek Borobudur Marathon yang terkenal dengan medannya yang tidak main-main.
Tidak terasa persiapan menuju raceday tinggal 6 minggu lagi, artinya masih ada waktu untuk berlatih agar finish strong penuh senyuman di finish line nanti.
Latihan Strength, Strength, Strength!
Kenapa? Karena latihan lari saja terutama utk lomba dgn jarak berpuluh km tidak cukup. Bisa berlari dengan pace kecil tapi tidak bertahan lama hasilnya belum bjsa maksimal.
Itulah yahg selalu diingatkan coach Valast dalam setiap latihan bersama teman-teman Skolari di Training Program Skolari #roadtoBorobudurMarathon, terutama yang akan menjajal kategori FM. Latihan strength akan menjadikan otot kaki, paha dan panggul menjadi kuat, sehingga sangat membantu melalui tanjakan dan turunan di Borobudur Marathon nanti. Diharapkan otot-otot kita sudah dapat beradaptasi dengan medan tanjakan yang akan ditemui di Bomar nanti. “Lebih baik menangis saat latihan daripada menangis saat race nanti”, begitu yang selalu diingatkan coach Valast.
Dalam rangkaian Training Plan yang disiapkan coach Valast untuk Skolari #roadtoBorobudurMarathon, beragam menu latihan disajikan untuk setiap harinya. Dari menu low heart rate running, interval, tempo, hills dan Long run di akhir pekan disusun sedemikian rupa agar para peserta dapat siap mental dan fisik saat race nanti.
Untuk kalian yang ingin tau lebih detail mengenai program ini, bisa konsultasi dengan coach Valast saat latihan reguler Skolari hari Kamis 18.30 dan Sabtu 06.30 pagi. Sesuai dengan motto coach Valast, “latihan tidak akan mengkhianati hasil’. Semangat!

#roadtoborobudurmarathin #skolari #sekolahlari #trainingprogram #latihangakakanmengingkarihasil #specialclass #runningissharing

By: Giattri Brilliant (Running Enthusiast)

Berlari di kawasan berbukit, seperti Sentul City jelas memiliki tantangan tersendiri. Betapa tidak, dengan kontur alami kaya akan bukit di ketinggian 700 mdpl ( meter di atas permukaan laut ) sejak lama kawasan tersebut menjadi magnet bagi para pelari dari berbagai penjuru Tanah Air. Mereka datang baik sekadar untuk berlari sendiri maupun bersama dengan komunitasnya, sembari menikmati lukisan Tuhan yang indah juga udara yang sejuk.

Alasan itulah yang melatarbelakangi Sentul City serta Sentul Highlands menginisiasi Highlands Half Marathon 2019 di perbukitan Sentul, Bogor, pada 29 September 2019. Gelaran lomba lari bertaraf internasional ini diharapkan dapat menjadi salah satu destinasi lomba lari jalan raya yang dikelola dengan baik bagi pelari di dalam dan luar negeri.

Saya sendiri, mengikuti kategori 10 K. Ingin rasanya ikut kategori 21 K, tapi saya sadar diri, belum cukup persiapan fisik dan mental. Masih banyak latihan yang harus saya lakoni.

Berbekal latihan selama sebulan lebih dengan Skolari-Sekolah Lari, saya optimis bisa finish strong dan terpenting bisa senyum, padahal kalau saya lihat peta jalur, saya bakal melewati rute yang pedas dan membuat dengkul berteriak!

Hari perlombaan pun tiba, pukul 02.00 WIB, saya bangun dan bersiap karena saya harus sampai di lokasi minimal sejam sebelum acara dimulai, kebetulan sesuai jadwal kategori saya dimulai pukul 05.30 WIB, 15 menit setelah kategori Half Marathon dilepas.

Setibanya di lokasi, saya happy karena bertemu dengan banyak abang dan kaka saya dari Skolari yang juga join, mereka ikut mulai dari kategori Half Marathon hingga 5 K. Saya sempat ikut pemanasan bersama. Ini sangat penting agar saat lari tidak kram atau cidera.

Pukul 05.29 WIB, kategori 10 k dilepas. Saya lihat tak sedikit pelari yang larinya melesat di depan saya, saya sendiri memilih untuk berlari santai agar tenaga tidak habis di awal. Saya lari dengan mempraktikan teknik running form yang diajarkan di Skolari serta tak lupa mengatur nafas.

1 km awal, masih manis. Selanjutnya? jangan ditanya, tanjakan pedas dan bertubi harus dilewati! Untung udara Sentul City sangat segar dan kawasan ini menyuguhkan pemandangan yang bagus. Jadi, hitung-hitung dalam hati ini hiburan bagi saya.

Setiap kali melewati tanjakan yang saya namakan tanjakan “nyebut” karena selama melewatinya, saya pasti tiba-tiba menjadi agamis mengucapkan kalimat istighfar juga di saat yang bersamaan saya selalu bertanya dalam hati, kapan cobaan ini akan berkahir. Saya merasa, tanjakan demi tanjakan tersebut tidak ada ujungnya.

Lain lagi, Bapak-bapak berusia sekitar 60 tahunan yang larinya bersebelahan dengan saya, dia setiap melewati tanjakan, kerap melontarkan keluhan, sumpah serapah, hingga bertanya kapan finish-nya??? Haha, setiap kali dia berkata demikian sontak membuat saya tersenyum kecil.


Saat melewati ujian kehidupan (tanjakan), selalu terngiang-ngiang kata Coach Adrie, running form, saya pun mempraktekannya (walaupun jujur masih jauh dari kata sempurna). Saya fokus ke depan dan tidak mau menundukkan kepala karena itu membuat saya merasa lelah dan sesak nafas. Tak kalah penting, saya harus terus terhidrasi. Jadi, setiap kali melewati water station, saya pasti meminum beberapa teguk air putih untuk membasahi tenggorakan sekaligus melepas dahaga.


Namun, di tanjakan-tanjakan terakhir sebelum finish, saya agak menyerah, saya tidak lagi berlari di tanjakan, melainkan memutuskan untuk ikut fun walk bersama beberapa pelari lainnya, sembari tetap mengatur nafas. Apalagi saya mendapat bocoran bahwa finish sekitar 3 kilo lagi.

Setiap kali mendapat jalanan ‘bonus’ (menurun dan mendatar) saya manfaatkan untuk lari konstan dengan kecepatan yang sedikit saya pacu. Begitu seterusnya, hingga tak terasa saya mendengar suara pemandu acara, yang artinya finish sudah di depan mata.

Saya nyengir lebar dan semakin semangat mendekati jalur finish karena para marshall berteriak, “Ayo, semangat, sebentar lagi finish!”. Mendekati garis finish, sudah standby abang dan kaka saya dari Skolari, mereka menyemangati saya dan memberikan saya bendera Skolari. Alhamdulillah, saya finish kategori 10 k dalam waktu 1 jam 17 menit 17 detik dengan strong dan bisa nyengir lebar!

Menurut saya race run ini sangat berkesan karena Skolari membantu saya mewujudkan mimpi kecil saya, bisa finish di race lari dengan senyum dan nggak kepayahan. Selain itu, Idea Run sebagai race management juga terbilang berhasil, di antaranya karena water station yang melimpah, tenaga medisnya standby, serta menepati janjinya bakal menyajikan ‘The New Challenge’ bagi para pelari.

Dan tak kalah penting, race run kali ini kembali mengingatkan saya untuk menjadi manusia yang mencintai proses karena proses tidak akan mengkhianati hasil.

Tahun depan saya harus jajal lagi, syukur-syukur bisa ikut kategori 21 k-nya, aminnnn…

 

 

By: Mirsal Abdurachman ( Run ical Run ) 

Edited: #BarefootJogger

 

Sabtu (28/9) 6 Skolarist berangkat ke Kuala Lumpur Malaysia. Mereka memang telah mempersiapkan diri untuk ikut di event Standard Chartered Kuala Lumpur Marathon (SCKL), membawa, dan mempromosikan nama Skolari ke Negeri Jiran ini. 

Berikut catatan mereka, 

Minggu (29/9)

Tepat jam 3 pagi waktu di Kuala Lumpur ( atau jam 4 pagi waktu Indonesia bagian Barat ) rute yang akan dilewati peserta sudah dinyatakan sebagai clear area. Artinya tidak ada kendaraan yang bisa lewat di daerah ini, hingga pukul 11 siang, saat Race dinyatakan telah selesai 

Semua peserta SCKL Marathon mendapat fasilitas free menuju lokasi race.Pilihannya adalah menggunakan MRT dan LRT. Fasilitas ini berlaku dari jam 3 hingga 6 pagi. Seluruh biaya transportasi peserta ditanggung Pemerintah. 

Race untuk 21K ( Half Marathon ) dimulai pukul 5.30 waktu KL dengan Cut off Time ( CoT ) 3.5 Jam, sementara untuk race 10K Start dimulai Jam 7.45 waktu KL dengan CoT 2.5 Jam 

Adanya perbedaan waktu start yang cukup jauh antara jarak 21K dan 10K karena panitia membagi  3 kategori untuk jarak 21K, yaitu speed, coorporate dan leassure. Tidak hanya itu, tempat start dibedakan setiap kategorinya.

Udara di Kuala Lumpur cukup bersahabat,dan bersih saat race dilakukan.Hal ini mengingat hujan yang turun malam hari sebelum hari H. Kekhawatiran soal kabut asap juga tidak terbukti.. Kontur aspal halus di sepanjang rute lari menambah nyaman para pelari dan memungkinkan untuk berlari dalam performa yang baik.

Euphoria dirasakan para pelari jelang dimulainya race, tanpa mengetahui, mereka sudah harus merasakan rute menanjak dari Km 1 , dan setiap kelipatan 2-3 km, rute tanjakan juga harus mereka lalui.

Untuk mengikuti race di SCKL sangat diperlukan latihan kekuatan paha dan kaki (strength).Tidak kalah pentingnya, teknik  pengaturan nafas mengingat rack yang dilalui peserta sangat bervariatif (tidak monoton).

Dan ini adalah beberapa point race SCKL yang dilihat dan dirasakan Skolarist saat berada di Kuala Lumpur:

1. Fasilitas dari pemerintah malaysia  (MRT dan LRT) cukup membantu para peserta untuk menuju venue race  setidaknya 28 titik jalan utama       ditutup.
2. WS ( Water Station ) disetiap 3K, jenisnya hanya air putih saja, tidak ada minuman isotonik.
3. Marshal atau penjaga setiap KM tidak berguna (mereka hanya diam tdk memberikan semangat peseta race ,banyak yg ngobrol dan duduk sambil main hp??), Fungsi Marshal hanya di awal dan diakhir race. 
4. fotografer tidak sebanyak race di indonesia, hanya ada 3 - 4 fotografer (diluar fotografer start dan finish).
5. Pada saat di finish line tidak ada peserta yg membawa bendera komunitas, hanya menggunakan jersey komunitas saja, berbeda dengan euphoria di indonesia pada saat finish line.
6.Cuaca panas di Jam 10 pagi
7. Isi RPC hanya Jersey, BIB, salonpas gel 1 dan 1 handbody 1 sachet dan beberapa pamflet para pendukung acara (tidak ada penunjuk race).

Di event ini, Fitri Aida, salah seorang skolarist yang baru saja menjajal jarak 21K atau Virgin Half Marathon berhasil finish strong, dengan waktu 3 jam 15 menit. 

Selamat untuk para Skolarist di SCKL 2019.

 
By: Gun Gun Heryanto (Running Enthusiast)
 
(Catatan latihan akhir pekan, Sabtu, 21/09/2019)
 
Pagi akhir pekan ini, langit Jakarta cerah berpadu sinar hangat matahari. Suasana nyaman untuk bergerak olahraga terlebih di penghujung pekan yang menyenangkan. 
 
Seperti biasa, titik kumpul di Gate 5 Dreezel Coffe. Saat saya datang, sudah banyak skolarist (panggilan utk anggota komunitas skolari) berkumpul dan saling menyambut hangat saat yang lain tiba. Tak ada stratifikasi sosial yang menjadi jurang pembeda. 
 
Tak ada perbedaan usia, gender, gelar, profesi dan lain-lain. Semua hangat, saling mendekap dan memberi semangat. Dalam terminologi dunia komunikasi itulah yang disebut sebagai model resiprokal atau timbal balik untuk saling berbagi energi. Skolari adalah wujud komunitas sehat masyarakat urban yang peduli pada multikulturalisme. Olahraga senyatanya adalah cara menyeimbangkan gerak fisik dan mental bahagia kita tanpa jarak pembeda. 
 
Usai bertegur sapa, skolarist bersiap warming up dan eassy running mengitari Gelora Bung Karno. Sesekali terdengar celetukan, candaan, terkadang terdengar nyanyian lirih dari beberapa orang yang menjadi petanda mereka bahagia. 
 
Komunitas kembali berkumpul di depan Dreezel Coffee untuk dibagi menjadi beberapa cluster. Semua pasti mencicipi ABC Drill yang mirip 'menu pembuka' serba lezat dari coach Adrie Soetopo. Ibarat membangun sebuah gedung, latihan ini adalah fondasi untuk mengokohkan rancang bangun semua teknik dan skill berlari. Tak ada keraguan, inilah dasar semua gerakan, bukan sekadar untuk menguatkan tapi juga menjadi dasar petahanan. 
 
Ada kelompok Novice (untuk yang kali pertama atau baru bergabung). Di cluster ini diajarkan anatomi tubuh, pernapasan hingga running form. Intinya di kelas ini dasar bagi pemula. Cluster lainnya ada 'road to' atau persiapan race. Pekan ini ada skolarist yang lagi siap-siap ikut Borobudur Marathon (Bomar) dan Jakarta Marathon (Jakmar). Selain juga ada cluster senior-senior alumni ITB yang bersiap menyongsong race di almamater mereka. Seru, meriah dan menyenangkan. Menu strength dari coach Valast kerap menjadi pilihan banyak skolarist.  Ini merupakan latihan yang sangat penting untuk menjaga kesehatan tulang dan kekuatan otot. Tapi tak hanya itu, latihan yang melibatkan kekuatan tubuh ini juga membantu meningkatkan keseimbangan tubuh dan menguatkan otot-otot pusat.
 
Saya sendiri, akhir pekan ini memilih kelas coach Semuel Elia Huwae Semmy mantan atlet lari nasional berprestasi yang sangat baik hati. Di cluster yang dipimpin Coach Sem, kami menikmati menu latihan flexibility. Tak hanya naik turun tangga, melatih kekuatan tangan dan dada, tapi juga peregangan seluruh otot-otot tubuh kita. Menu ini, sungguh menyenangkan dan bermanfaat untuk relaksasi. Semua aktivitas kerja dan olahraga kita membuat otot-otot kita tegang dan bekerja ekstra. Dengan relaksasi ala coach Sem, kami menjadi makin sadar arti sebuah jeda dalam arti sesungguhnya. 
 
Filosofi flexsibilitas adalah semua proses butuh keseimbangan, kelenturan dan mengadaptasi tekanan. Sebuah hal fundamental yang kita kerap butuhkan juga dalam kehidupan sehari-hari. 
 
Inti dari semua cerita hari ini benang merahnya adalah kita perlu komunitas sehat tempat kita bersinergi, berbagi dan saling menguatkan. Modernitas serta rutinitas kaum urban, kerap menghadirkan situasi mekanis. Paguyuban yang multikultural menjadi solusi tepat untuk hidup sehat bermartabat. Viva skolari! 
.
.
#KataGGH #healthylife #komunitasehat #runningisaharing #sharingisblessing

By: Achmad Sofyan (Running Enhusiast)

Kalau boleh sedikit sharing...FM MMB 2019 kemarin saya sedikit banyak merasakan manfaat berlatih dengan Baik, dan Benar ya seperti tujuan awal skolari ini yaitu Berlari dengan SEHAT,BENAR dan BAHAGIA...
Selesai race, jujur badan kaya rontok semua, karena jarak 42K itu bukan jarak yg pendek tapi super panjang dan jauh...
Hal hal kecil dari mulai stretching pemanasan sebelum mulai lari pada saat race, fokus running form dan HR zone dari awal sampai akhir di finish saya pun stretching ...
Manfaat yg saya rasakan setelahnya adalah saya pikir proses recovery after race marathon itu mungkin bisa lama dan berhari-hari...ternyata yg saya heran, saya gak rasakan itu, setelah capek berlari 42K sy langsung istirahat tidur, setelah nutrisi terpenuhi tentunya...ga tau kenapa besok pagi nya sy sudah fit kembali, padahal sy ingat sehari sebelumnya pada saat finish di MMB itu rasanya kaki dan badan sakit semua...
Intinya proses latihan atau TP yg di dapatkan dari skolari dari mulai pemanasan sampai stretching pendinginan itu saya rasakan manfaatnya, dengan cepatnya proses recovery saya after race...sehingga tujuan berlari dengan Sehat, Benar dan Bahagia sy rasakan...
#runningissharing ???

By: Zainagara (Running Enthusiast) 

Halo, Saya Zain asal Malang, saya bergabung di skolari sejak tgl 11 April 2019, Sekarang saya kerja sebagai abdi negara di daerah Pademangan Jakarta utara.

Hari ini minggu 22 Sept 2019 mengikuti event pertama Garmin yaitu Garmin Run Indonesia 2019, sedikit bercerita dari persiapan carbo loading dan latihan menu ala skolari yang selalu ditakuti para muridnya skolari yaitu strength termasuk saya juga paling takut strength.

Kalau ada latihan strength saya itu suka ogah-ogahan tapi setelah ikut race untuk Kartini run dan milo run, kini saya sadar banget pentingnya menu strength untuk pelari yang selalu kena tantangan tanjakan, Sakit banget kalau setelah latihan strength, apalagi kalau dikantor selalu naik turun tangga, berasa mau nangis Lah.

Seminggu ini saya makan yang penuh carbo dimulai singkong lumer dikasih keju dan ubi rebus,
Seminggu ini juga saya latihan yang di ajarkan skolari dari running form dan strength.

Istirahat lebih dari cukup karena minggu mau race, Karena Tempat tinggal jauh dari race event, akhirnya saya menginap di tempat Reza murid skolari juga di daerah Kalideres, lumayan deket dari kalideres ke bintaro Jaya dan ini event pertama saya lari di daerah bintaro jaya xchange.

Takut awalnya selalu denger tanjakan bintaro itu pedes banget, eh bener aja baru juga start udah langsung naik tanjakan di kilometer pertama ??
Dalam hati ngomong “Kok gak engap yah sekarang naik tanjakan saat lari”. Sampe di kilometer 5 masih aman lah nafas dan HR juga, trus pas di kilo meter 8 naik tanjakan lagi yang kedua, buset ini gak engap sama sekali dong (ngomong sama diri sendiri) dan akhirnya bisa ngerasain yang namanya last push di akhir finish dengan catatan terbaik 55.01 setelah ikut MILO 58.27.

Semua berkat latihan di skolari yang selalu di takuti yaitu strength tapi bagus untuk runner yang sering kena tantangan tanjakan.

Terima kasih untuk Semua Coach, ascoach dan team official skolari yang tak pernah jenuh melatih di GBK Gate 5a drezzel Coffee.

Harapan Zain semoga skolari selalu semangat memberikan pelatihan yang terbaik untuk para runner agar bisa sehat dan bahagia bersama.

By: Gun Gun Heryanto ( Running Enthusiast ) 

(Sebuah cerita dari NB-Run, Minggu, 15/09/2019)


Setiap race selalu punya ceritanya sendiri-sendiri. Bagi saya, ini bukan soal podium, tapi soal menaklukan kemalasan, kelelahan atau menjaga daya tahan dan keseimbangan gerak. Tentu, yang paling fundamental lagi adalah atmosfir hidup sehat dan kebahagiaan  berjumpa para sahabat.

Race yang saya lalui hari ini di NB Run seperti halnya race-race lain, menawarkan sisi positifnya yakni mengatur diri sendiri untuk berlari dengan takaran. Berlatih sebelum race secara konsisten, warming up sebelum menempuh route lari, serta mengatur dengan seksama kecepatan berlari agar finish dengan optimal.

Race adalah gambaran kehidupan kita sesungguhnya. Setiap tahapan harus direncanakan. Mengatur ritme bergerak, menyiapkan mental dan mainset yang sama pentingnya dengan latihan fisik. Mengikuti 'code of conduct' agar kita terbiasa bergaul dalam keadaban publik. Setiap race pasti ada water station (WS) dimana kita biasanya jeda sejenak. Hidup juga demikian, perajalanan panjang selalu butuh menepi, sekadar bernafas atau jeda minum agar tak dehidrasi. Jangan terlalu ngotot dan ambisius mengejar kecepatan, karena jika tak waspada berpotensi cidera. Ingat! Setiap orang punya zona waktunya sendiri-sendiri. Belum tentu yang gaspol berlari di tahap awal bisa finish lebih cepat dari yang memulai dengan pelan tetapi penuh perhitungan.

Yang terpenting lagi, dari suluruh proses berlari, adalah kebahagiaan berjumpa dan bercengkrama dengan teman-teman. Kebersamaan dalam balutan kekitaan melipatgandakan makna berlari dari sekadar instrumental ke hal substansial dan fundamental. Lihatlah, betapa bahagianya warga komunitas Skolari yang selalu mengembangkan respect, good will dan mutual understanding saat berlari. Kebahagiaan tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Bukan siapa yang lebih cepat, tapi siapa yang lebih bermanfaat. Happy running! Always #BBB berpikir, bergerak, bermanfaat.

#KataGGH #wayoflife #healthylife #runningissharing #sharingisblessing #happyweekend

By: Rinaldi Usman ( Founder Skolari ) 

Berlari sebagai pemanasan, rutinitas dan perlombaan

Hampir semua kita pernah dan sering melakukan olahraga berlari, apalagi mereka yang sudah biasa ikut lomba marathon 5,10, Half Marathon dan Full Marathon. Namun  tahukah anda bahwa kegiatan berlari terdiri dari beberapa klasifikasi :
1. Berlari sebagai pemanasan.
Berbagai kegiatan olahraga seperti sepakbola, bola basket, bela diri dan lainnya menjadikan aktivitas berlari sebagai pemanasan. Pemanasan ini dilakukan sebelum melakukan senam, latihan inti dan teknis. Jarak lari pemanasan biasanya berkisar antara 1-2 km saja.
2. Berlari sebagai rutinitas
Berlari sebagai kegiatan rutin bertujuan untuk menjaga kebugaran, kesehatan dan bersosialisasi. Biasanya berlari rutin dilakukan 3-4 kali seminggu dengan jarak lari 5-6 km. Karena sifatnya yang rutin, maka tidak diperlukan  kecepatan ekstra dalam melakukan lari jenis ini. Minimal waktu yang dibutuhkan adalah 20 menit tanpa henti.
3. Berlari dalam perlombaan
 Berbeda dengan jenis berlari sebagai pemanasan dan rutinitas, berlari dalam perlombaan memerlukan teknik, strategi dan persiapan khusus. Seseorang tidak bisa atau sangat beresiko jika ikut berlomba dalam ajang event marathon tanpa teknik, strategi dan persiapan yang memadai. Akibat yang fatal dapat terjadi. Persiapan yang harus dilakukan meliputi : cek kesehatan, istirahat yang cukup, teknik dan strategi yang bergantung pada jenis event dan medan berlari yang akan dihadapi. Dibutuhkan min  1-2 bulan pelatihan sebelum mengikuti perlombaan berlari.
Apapun jenis kegiatan berlari anda, baik itu untuk pemanasan, rutinitas dan perlombaan, kita semua membutuhkan pelatihan yang memadai agar :
1. Mendapatkan manfaat berlari secara maksimal
2. Mencegah terjadinya cedera
Bergabunglah bersama @skolari.id untuk berlatih secara benar, sehat dan bahagia. Jadwal latihankami setiap Kamis sore pukul 18.30 dan Sabtu pagi pukul 6.30. di GBK gate 5 area 6A @Dreezel Coffee . Terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya

By: Rinaldi Usman ( Founder Skolari ) 

 

BERLARI, merawat asset hakiki


Asset terpenting manusia adalah kesehatan fisik dan mental. Tanpa kesehatan fisik dan mental, apapun dan berapapun harta yang dimiliki manusia tiada berguna.Sebagaimana asset harta benda yang memerlukan perawatan, asset fisik dan mentalpun harus senantiasa dirawat dan ditingkatkan valuasinya.
Salah satu metode merawat kesehatan fisik dan mental sekaligus adalah dengan cara olahraga berlari. Berlatih berlari dengan benar tidak hanya meningkatkan kemampuan kekuatan fisik, namun secara mental otomatis akan membawa kebahagiaan disebabkan 3 hal :
1. Pencapaian dan kemajuan kekuatan fisik menimbulkan “self confidence”.
2. Berlatih dan berbagi ilmu bersama-sama kawan lama dan baru, akan melahirkan persahabatan dan persaudaraan sebagai hakikat manusia sebagai makhluk sosial.
3. Terbentuknya hormon “endorphin”, hormon kebahagiaan setelah berlatih berlari dan bersosialisasi.
Dengan demikian berlari bukanlah hanya sekedar berolahraga, akan tetapi berlari merupakan metoda pemeliharaan asset kunci dalam diri manusia ; kesehatan fisik dan mental.
Skolari memfasilitasi upaya pemeliharaan tersebut di atas dengan menyediakan sarana pelatihan dan sosialisasi bagi masyarakat luas.
Bergabunglah bersama kami setiap Kamis malam dan Sabtu pagi. Follow our IG @skolari.id, serta kunjungi website, youtube dan facebook Skolari.
#Runningisblessing
#Runningissharing

Shopping Cart

x
 x 

Cart empty